15 Ribu Ton Batubara di Hari Pertama Bongkar Muat Batubara di Pelabuhan Cirebon

0
315
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Cirebon, Rabu (3/12/2014). Terhitung mulai hari ini, Pelabuhan Cirebon disterilisasi dari orang yang tak berkepentingan, kendaraan, dan barang tanpa dokumen resmi. (tribunnews.com)

Cirebon – (suaracargo.com)

Pada hari pertama aktivitas bongkar muat batubara di Pelabuhan Cirebon, sedikitnya sekitar 15.000 ton dari tiga kapal tongkang bermuatan batubara dari berbagai jenis berlabuh di dermaga Muarajati, Senin (27/9).

Hari pertama kegiatan bongkar muat batubara di Pelabuhan Cirebon, pihak Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Cirebon dan PT Pelindo II Cirebon siap menjalankan kembali kegiatan batubara sesuai dengan prosedur dan tidak akan mencemari lingkungan warga sekitar.

posko-garut

Asistance General Manager Pengendalian Kerja bidang PFSO PT Pelindo II Cirebon, Imam Wahyu mengatakan, sejauh ini pihaknya bersama KSOP sudah menyiapkan berbagai strategi teknis pembongkaran komoditas curah kering. Salah satu strategi yang ditempuh adalah penyiraman secara instens di truk-truk pengangkut batubara dan kapal-kapal tongkang. Penyiraman dengan air tersebut sama sekali tidak mengurangi kualitas batubara.

“Hari pertama ini sedikitnya ada tiga kapal tongkang berasal dari Kalimanan bersandar di dermaga Muarajati, satu tongkang berisi 5000 ton batu bara, satu tongkang bisa habis dalam waktu dua sampai tiga hari kalau diangkut secara intens,” ungkapnya ditemui di pelabuhan.

Hal serupa disampaikan Kepala KSOP, Revolindo menjelaskan, terkait jaminan kepada warga sekitar untuk terbebas dari paparan debu batubara, pihaknya sudah melakukan serangkaian antisipasi agar debu tidak sampai ke pemukiman warga.

Penyiraman pada kapal tongkang bermuatan batubara bertujuan agar saat batubara diangkut, debu tidak beterbangan. Dirinya juga menekankan kepada pengusaha yang menggunakan jasa angkutan pelabuhan agar menutup rapat mobil bermuatan batu bara agar tidak tercecer.

“Hari pertama kegiatan batubara ini, kami menjamin tidak ada debu berterbangan ke pemukiman. Ada petugas khusus menyiram saat bongkar muat dari tongkang, sampai mobil truk berisi batu bara kami siram air agar debu tidak keluar. Truk pun harus ditutup rapat-rapat,” ujarnya, seperti dilansir fajarnews.com.

Sebagai antisipasi agar aktivitas bongkar muat batubara tidak mencemari lingkungan, Revo mengubah jalur distribusi angkutan truk bongkar muat batubara. Awalnya truk melintasi jalan Samadikun menuju Krucuk kemudian ke Pilang. Akan tetapi saat ini jalur angkutan hanya boleh melintas melalui Kesunean, Mundu dan langsung masuk ke tol Palikanci. “Pastinya kami tgidak lewat di kawasan pendidikan, Yayasan Santa Maria dan Rumah Sakit Pelabuhan,” katanya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY