7 Langkah Menko Rizal Ramli Atasi Kelambanan Dwelling Time

0
331
ilustrasi pelabuhan (Liputan6.com/Antara)
ilustrasi pelabuhan (Liputan6.com/Antara)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menyiapkan tujuh langkah pemangkas masa tunggu bongkar muat (dwell time) di Pelabuhan Tanjung Priok.

“Pembenahan itu meliputi perbaikan arus barang, sistem teknologi informasi, hingga pemberantasan mafia yang selama ini bermain,” katanya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (24/8/2015).

Ia mengatakan, dirinya dan tim sudah mempelajari masalah yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok. “Masalahnya memang cukup rumit. Terlalu banyak pihak yang berkepentingan. Insya Allah pekan depan kami mulai benahi. Dengan izin Allah dan kerja keras kita semua, Tanjung Priok bisa kita benahi hingga menjadi pelabuhan internasional yang efisien dan berdaya saing tinggi,” katanya, seperti dilansir kompas.com

Rizal lalu menuturkan, langkah pembenahan yang pertama adalah memperbanyak jalur hijau bagi barang-barang ekspor impor yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Sedangkan untuk jalur merah bagi barang yang dicurigai bermasalah, hal itu akan ditekan sampai pada tingkat paling minimal. Ia juga mengatakan, kementeriannya akan menjalin koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

“Kedua, meningkatkan biaya denda bagi (pemilik) kontainer yang telah melewati masa simpan di pelabuhan,” ucapnya. Menurut dia, selama ini tarif denda yang berlaku sangat rendah, yaitu hanya Rp 27.500 per hari per kontainer seukuran 20 kaki. Akibatnya, sebagian pengusaha lebih suka menyimpan barang mereka di pelabuhan ketimbang membayar sewa gudang di luar pelabuhan yang jauh lebih mahal.

“Ketiga, kami akan membangun jalur kereta api sampai ke lokasi loading dan uploading peti kemas. Di negara-negara maju, akses jalur kereta api memang sampai ke pelabuhan,” lanjutnya. Menurut Rizal, akses kereta api ke pelabuhan akan membuat pergerakan arus barang akan lebih cepat dan murah serta mengurangi beban jalan dan kemacetan arus lalu lintas.

Kendati diakui Rizal bahwa rencana tersebut akan berbenturan dengan banyak pihak yang mengambil keuntungan, ia bertekad untuk tetap merealisasikan rencana itu. “Sebab, kalau kondisi sekarang dibiarkan berlanjut, maka Tanjung Priok akan terus didera persoalan yang sama dengan keruwetan dan kerumitan yang makin eskalatif (meningkat),” imbuhnya.

Langkah selanjutnya adalah meningkatkan sistem teknologi informasi dalam pengelolaan terminal peti kemas. Dia menilai, peningkatan sistem teknologi informasi mempermudah pengusaha karena bisa dengan mudah mengetahui posisi peti kemas secara detail dan akurat. Dengan demikian, penanganan dan relokasi peti kemas bisa dilakukan dengan cepat dan murah.

“Kelima, sudah saatnya Tanjung Priok menambah kapasitas crane (derek). Jumlah yang ada saat ini sudah tidak memadai sehingga kurang memberi daya dukung,” katanya. Rizal juga mengatakan perlunya penyederhaan peraturan dan perizinan yang berlaku di pelabuhan.

Untuk itu, pihaknya akan menjalin koordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti Kementerian Perdagangan, PT Pelindo II, Kementerian Pertanian, Badan Karantina, Ditjen Bea & Cukai, Kepolisian, dan TNI Angkatan Laut.

“Yang tidak kalah penting, kami juga akan memberantas mafia yang selama ini bermain di pelabuhan. Mereka inilah yang secara langsung ataupun tidak langsung telah membuat Tanjung Priok menjadi pelabuhan yang lamban, tidak efisien, dan berbiaya tinggi,” ungkapnya.

Rizal juga mengaku tak gentar jika harus berhadapan dengan backing para mafia tersebut. “Saya sadar betul risikonya pasti ada. Saya siap menghadapi siapa pun mereka. Itulah sebabnya saya menggandeng KSAL bahkan Panglima TNI untuk memberantas para mafia,” ujarnya.

Sebelumnya, pada sidang kabinet pekan silam, Presiden Joko Widodo meminta Menko Kemaritiman untuk membenahi dwell time di Pelabuhan Tanjung Priok.

Presiden Jokowi menargetkan dwell time maksimal hanya empat hari sampai akhir Oktober 2015 dari sekitar enam hari pada saat ini. Di Singapura, dwell time barang di pelabuhan hanya memerlukan satu hari, sedangkan di Malaysia dua-tiga hari.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here