Agar Logistik Cost Turun, Pemerintah Harus Benahi Sektor Infrastruktur

0
459
Bisnis logistik dan angkutan kargo kini jadi tulang punggung pemasaran kendaraan niaga di Indonesia sejak bisnis tambang dan perkebunan lesu di tiga-empat tahun terakhir. (Foto: Istimewa / tribunnews.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Forum Wartawan Otomotif Indonesia (FORWOT) bekerja sama dengan PT Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI), agen pemegang merk kendaraan Tata Motors di Indonesia menggelar diskusi mengangkat tema “Menstimulus Industri Logistik & Kendaraan Niaga di Indonesia. Diskusi tersebut diselenggarakan pada hari Rabu (26/10/2016)

Dalam diskusi tersebut, para pembicara membedah tantangan dan problematika industri transportasi kargo dan logistik serta tren penjualan kendaraan niaga di Indonesia.

Wakil Ketua Umum ALFI Iman Gandi mengatakan, pebisnis logistik menyambut baik tren pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia di tengah ekonomi nasional yang kini sedang mengalami kelesuan.

Perputaran uang di bisnis e-commerce saat ini diestimasi mencapai 300 miliar dolar AS. Pebisnis logistik bisa mengambil keuntungan ekonomi dari industri ini melalui layanan angkutan pengiriman barang yang ditransaksikan berikut manajemen pergudangannya.

Kondisi ini terjadi karena pelaku industri e-commerce tidak mengelola sendiri manajemen logistik dan pengiriman barangnya ke pelanggan (diserahkan ke pihak ketiga).

Sayangnya, pemain bisnis logistik nasional seperti anggota ALFI baru bisa mengambil sepertiga dari potensi pasar di e-commerce ini.

Iman Gandi juga mengatakan, untuk menggenjot pengembangan sektor logistik di Tanah Air, ALFI saat ini mengajukan usulan reformasi logistik nasional ke Pemerintah.

Di bidang regulasi, usulan yang diajukan antara lain harmonisasi regulasi dan deregulasi logistik, penerapan sistem e-payment untuk pengurusan customs clearance (bea cukai).

Usulan lainnya adalah pembenahan barang impor jenis barang larangan dan pembatasan (Lartas) dan percepatan dokumen Pemberitahuan Impor Barang/Ekspor Barang (PIB dan PEB), dan usulan menghilangkan ego sektoral stakeholder.

Di sektor infrastruktur, ALFI antara lain mengajukan usulan pengembangan logistik nasional yang terintegrasi dengan daerah, pembangunan infrastruktur pelabuhan, laut dan udara, pengembangan kawasan industri, pengembangan aerocity/aerotropolis dan percepatan pembangunan jalan tol Trans Jawa dan di wilayah Indonesia Timur serta pembangunan logistics center.

“Di bidang kebijakan fiskal dan moneter ALFI antara lain mengajukan usulan penerapan National Single Window, revitalisasi moda angkutan darat dan udara penunjang logistik serta penurunan suku bunga bank,” sebut Iman Gandi.

Bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) dan Asosiasi Depo Kontainer (ASDEKI), ALFI saat ini melakukan sertifikasi kompetensi SDM logistik dengan membentuk lembaga sertifikasi Logisik Insan Prima.

Hery Lazuardi, Pemimpin Redaksi Translogtoday menyatakan, sebagai negara kepulauan dengan luas daratan mencapai 1.919.317 km persegi, Indonesia amat membutuhkan sarana dan prasarana transportasi yang masif dan merata hingga ke pelosok daerah.
“Tak hanya jalan, jembatan, pelabuhan dan bandara, tapi juga alat angkut publik yang mendukung pergerakan manusia dan barang dengan cepat, aman dan efisien,” ungkapnya, seperti dilansir tribunnews.com.

Namun, Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan indeks kinerja logistik (LPI) yang rendah. Industri transportasi menghadapi isu kongesti, dwelling time, dan lain-lain. Indeks peringkat LPI Indonesia di antara negara ASEAN berada di nomor 4 dan nomor 63 di peringkat global.

Menurut Hery Lazuardi, perbaikan kualitas infrastruktur Indonesia perlu terus digenjot demi memacu sektor bisnis logistik dan pergerakan serta transportasi barang semakin lancar yang selanjutnya mampu menekan cost.

Tantangan lainnya adalah tren pelemahan permintaan kendaraan komersial di pasar nasional sejak tiga-empat tahun terakhir akibat melemahnya harga berbagai komoditi perkebunan dan tambang.

Ke depan, Pemerintah direkomendasikan membuat kebijakan baru di bidang logistik yang komprehensif agar tidak lagi memunculkan persoalan baru seperti kebijakan tumpang tindih, termasuk kebijakan pusat dan daerah, yang berdampak negatif bagi industri logistik Tanah Air.

Presiden Direktur PT TMDI Biswadev Sengupta mengatakan, pihaknya mendukung pertumbuhan industri logistik lewat produk kendaraan niaga yang efisien di setiap segmennya, seperti pick up Tata EX2, Tata Super Ace, Tata Xenon RX dan Tata Xenon XT D-Cab 4×4, truk ringan Tata LPT 913 dan Tata Ultra 1012, serfta truk heavy duty tractor head Tata Prima 4023 dan Tata Prima 4028 S, untuk berbagai aplikasi sesuai kebutuhan pebisnis.

“Industri logistik adalah partner utama kami sebagai penyedia kendaraan niaga yang efisien dengan biaya operasional yang rendah. Pengalaman kami di industri kendraaan niaga global membuat kami yakin dapat bersaing di pasar Indonesia,” kata Biswadev Sengupta.

Biswadev sangat optimistis, pasar kendaraan niaga di Indonesia ke depan akan kembali bangkit seiring dengan tren pertumbuhan industri jasa transportasi dan logistik.

“Harga komoditas saat ini mulai menunjukkan kenaikan. Hal itu diharapkan bisa mendorong naiknya konsumsi rumah tangga, sehingga kebutuhan pengangkutan barang akan meningkat,” katanya.

Dari sana, kebutuhan pasar terhadap kendaraan niaga akan kembali tumbuh.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here