Ahok Ingin Port of Jakarta Dibangun di Lokasi Reklamasi Pulau

0
396
Ilustrasi pelabuhan di Indonesia. (sumber: Suara Pembaruan)
Ilustrasi pelabuhan di Indonesia. (sumber: Suara Pembaruan)

Jakarta – (suaracargo.com)

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ingin segera menerapkan konsep pembelajaran yang diterimanya dari hasil kunjungan kerjanya ke Rotterdam, Belanda, dengan merealisasikan pembangunan reklamasi Pulau O, P, dan Q sebagai pusat pelabuhan.

Basuki mengatakan, pihaknya sudah melangsungkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak Belanda agar mereka membantu menangani proyek tersebut.

“Makanya saya bilang sama Pak Lino (Dirut PT Pelindo II), kita harus namakan ini Port of Jakarta, sehingga Rotterdam dan Jakarta, tidak hanya Sister City, tapi juga Sister Port, untuk networking ini, penting untuk logistik,” ujar Basuki di Balai Kota, Jumat (25/9).

Di Rotterdam, kata Basuki, ada pelabuhan yang dinamakan Port of Rotterdam yang keberadaanya disebut sebagai jantungnya Eropa. Dengan bergabungnya pulau-pulau milik PT Pelindo dengan yang dimiliki DKI, katanya, Port of Jakarta juga bisa dibangun meski tidak harus persis sama seperti yang ada di Rotterdam. Namun setidaknya, pelabuhan itu diharapkan bisa menjadi jantungnya Asia.

PT Pelindo, kata Basuki, sudah memiliki Pulau N, sedangkan DKI memiliki Pulau O, P, Q, termasuk Ancol yang memiliki Pulau M yang terletak di sebelah kiri Pelabuhan Tanjung Priok.

“Nah, kenapa tidak kita gunakan Pulau M, N, O, P, Q, lima pulau hasil reklamasi menjadi Port of Jakarta? Lalu ada PT KBN kan sahamnya mayoritas (70 persen lebih) oleh BUMN, lalu 20 sekian persen oleh DKI, kita mau naikin saham dan kami mau menyerahkan saham itu kepada PT Jakpro. PT KBN kenapa tidak diserahkan ke Pelindo II gitu lalu ke Jakpro jadi kami punya 50:50,” kata Basuki, seperti dilansir beritasatu.com.

Jika pihak Port of Rotterdam pun turut bekerja sama, mereka juga akan memiliki saham sehingga pelabuhan di DKI bisa menjadi lebih efisien. Apalagi saat ini Port of Rotterdam merupakan pelabuhan logistik yang paling bagus di dunia.

Basuki bertemu dengan perusahaan pembangun pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan Tanjung Priok, Jakarta, yakni Vankoort. Perusahaan tersebut juga sudah bekerja sama dengan PT Pelindo III. Seperti halnya di Belanda, para pengembang pulau reklamasi di pantai utara nantinya juga akan memiliki kewajiban untuk memelihara kanal-kanal yang ada.

Basuki mengatakan, di Rotterdam pun mengalami hal yang sama seperti di Jakarta. Ia mencontohkan, keberadaan sebuah sungai yang hulunya ada di Swiss. Menurut dia, mereka lebih repot karena harus kerja sama dengan beberapa negara seperti Swiss, Prancis, dan Jerman supaya tidak terjadi pencemaran di laut.

“Nah kita kan masih lebih gampang, kita urusannya hanya Jawa Barat dan Banten. Belanda juga sudah punya kajian tentang kita. Jadi menarik orang-orang sana kalau mau kasih paparan tentang Jakarta gitu ya, saya dalam hati dia kayaknya lebih tahu daripada kita. Ya wajar 360 tahun yang lalu dia sudah membangun Batavia, membuat saluran, persis kayak kita konsepnya,” katanya.

Bahkan, terang Basuki, Belanda sekitar tahun 1963-1965 semua kanal-kanal di sana mirip dengan yang ada di Jakarta sekarang, berlumpur dan sangat jorok. Namun mereka bisa menyelesaikannya dengan Water Net, yang merupakan perusahaan pusat airnya Belanda yang mengatur air, termasuk limbah.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here