Akibat Pertumbuhan Ekonomi, Pengusaha Logistik Enggan Turunkan Tarif

0
184
ilustrasi truk barang (Tribun Lampung)

Surabaya – (suaracargo.com)

Pertumbuhan ekonomi yang tak kunjung pulih membuat para pelaku usaha angkutan barang dan peti kemas di Jatim mengencangkan ikat pinggang mereka agar bisa bertahan hidup.

“Meski BBM saat turun, hal itu tidak berpengaruh signifikan. Kami dituntut tarif angkutan diturunkan. Kami jelas keberatan sekali,” jelas Ketua DPC Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Khusus Tanjung Perak, Kody Lamahayu saat ditemui dikantornya, Rabu (13/4).

Kody mengatakan, alasan pihaknya tidak bisa menurunkan tarif sejak diberlakukannya biaya angkut barang dan peti kemas disepakati dengan pengguna jasa.

“Apalagi keluar ketentuan patokan kesepakatan yang menjadi Pedoman Tarif Angkutan Barang dan Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tahun 2015, tarif angkut hanya dipatok 60%,” jelasnya, seperti dilansir jitunews.com

Kody mengatakan, sebenarnya kondisi yang kian memrihatinkan tersebut tidak hanya dikarenakan ketetapan pedoman tarif. Faktor ekonomi global juga turut memengaruhi lemahnya penguatan sektor angkutan barang dan peti kemas di Tanjung Perak.

“Implikasi dari situasi yang tidak menentu ini berujung pada tingkat kemampuan daya beli masyarakat, dan perekonomian nasional. Akibatnya, ketidakseimbangan antara suplai dan demand yang terjadi,” papar lelaki berambut putih ini.

Situasi yang menggejala sejak 2014 ini, kata Kody, berdampak pada hilangnya pekerjaan angkutan yang sebelumnya bisa mencapai load factor (LF) 70% dari 2011-2013. Ujung-ujungnya, banyak armada yang dimiliki anggota Organda Khusus Tanjung Perak dalam dua tahun terakhir itu mangkrak karena berhenti operasional.

Menurut Kody, kondisi ini bisa pulih apabila suplai dan demand (pemasukan dan penerimaan) seimbang dan tarif bisa bertahan di kisaran 80%. Namun, Kody sendiri pesimis situasi dan traffic angkutan barang ini bisa pulih seperti sedia kala. “Kami tidak bisa memastikan. Apalagi, tarif angkutan di Jawa Timur ini tergolong paling murah, hanya Rp 850 per mil per ton,” ungkapnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY