Akses Bandara Ditutup, Pengusaha Kargo Sarankan Pengiriman Barang di Juanda Pindah ke Bali

0
537
KAWASAN KEAMANAN TERBATAS : Jalur dari T1 dan T2 Bandara Juanda yang ditutup sebagai akses kargo sejak Kamis (12/3). (Dok YLPK Jatim)
KAWASAN KEAMANAN TERBATAS : Jalur dari T1 dan T2 Bandara Juanda yang ditutup sebagai akses kargo sejak Kamis (12/3). (Dok YLPK Jatim)

Sidoarjo – (suaracargo.com)

Delapan hari sudah akses kargo dari terminal utara Bandara Juanda (T1) ke terminal selatan (T2) ditutup. Angkasa Pura (AP) Logistik Surabaya dan AP 1 Juanda memang sudah mengalihkan jalur keluar masuk barang melalui jalur alternatif. Yakni, menggunakan landasan pacu di atas pukul 22.00 hingga pukul 05.00, saat runway itu tidak sedang digunakan. Meskipun demikian, aktivitas loading kargo di sana tetap tidak maksimal.

Kondisi tersebut tentu membuat pengusaha kargo merugi. Bukan hanya itu, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Khusus Juanda Ima Sumaryani mengatakan, pihaknya merasa malu terhadap klien, terutama yang berasal dari luar negeri. Masalah akses itu telah membuat banyak barang tidak bisa terkirim tepat waktu. ’’Kejadian itu (pemblokadean, Red) membuat padangan internasional menjadi kurang baik,’’ tutur Ima.

Merasa tak mungkin ada opsi pembukaan akses itu dalam waktu dekat, Ima menyarankan para pengusaha yang harus mengirim barangnya beralih ke bandara lain yang terdekat dari Juanda, yaitu Bandara Ngurah Rai, Denpasar. ’’Kami memohon masing-masing pihak (AP 1 selaku operator dan TNI-AL selaku pemilik lahan di jalur akses kargo, Red) segera menyelesaikan agar pelayanan kembali normal,’’ tutur Ima, sebagaimana dilansir jawapos.com.

Saat ini, aktivitas pemindahan kargo baru dapat dilakukan setelah operasi penerbangan setiap harinya berakhir. Barang yang pagi atau sore sudah tiba, tetap saja harus menunggu sampai menjelang dini hari baru bisa diberangkatkan. Tak mau menanggung risiko keterlambatan dari jadwal pengiriman, maskapai Garuda Indonesia memutuskan untuk stop melayani pengiriman kargo. Itu terhitung sejak hari pertama penutupan akses pada Kamis (12/3). ’’Sampai hari ini kami masih stop operasi hingga menyesuaikan perkembangan di lapangan,’’ ungkap Vice President Domestic Region-3 Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara PT Garuda Indonesia Flora Izza saat dihubungi kemarin (18/3).

Flora mengaku belum mengetahui seberapa besar pengaruh penumpukan barang pasca maskapainya tidak melayani angkutan kargo. Dari T2, tidak banyak maskapai nasional, kecuali Garuda tujuan domestik dan Lion Air tujuan internasional. Selebihnya maskapai asing. ’’Data lebih detail sebenarnya ada di AOC (airlines operators committee),’’ ungkap dia.

Sembari menanti kondisi kondusif, pihaknya tetap menjaga kualitas pelayanan angkutan penumpang. Aktivitas kargo sejatinya mulai terurai sejak pengalihan jalur melalui runway seusai penutupan hari kedua. ’’Pengusaha menyiasati mengirim ke kargo bandara mulai jam 10 malam itu agar tidak terjadi penumpukan,’’ terang seorang pengelola kargo yang menolak namanya dikorankan.

Sebelum akses dari terminal kargo ditutup, jajarannya dapat membagi pool di sekitar apron dan gudang kargo supaya tidak sampai menumpuk. Sebab, terbatasnya waktu pengiriman kargo itu memberi dampak lain. Jumlah pengiriman komoditas yang mudah mengalami penurunan kualitas seperti produk pertanian dan perkebunan yang layu ataupun ikan yang kurang segar terus berkurang. Kondisi itu berarti mengurangi omzet pengiriman. ”Datanya yang update ada di manajemen komersial AP 1,’’ ungkap seorang petinggi kantor cabang Surabaya AP Logistik.

Dalam perkembangan lain, pembahasan perjanjian kerja sama tampaknya belum berujung. Masih terjadi silang sengkarut antara AP 1 dan TNI-AL. Permasalahan muncul karena ada poin-poin perjanjian yang belum dilaksanakan. Yang lebih disayangkan, selain poin-poin perjanjian yang disepakati belum terpenuhi, ada kegiatan baru di luar kesepakatan. ’’MoU (memorandum of understanding) yang disepakati mereka ingkari. Pimpinan TNI-AL menjadi marah,’’ ungkap sumber Lanudal Juanda.

Dia mengungkapkan, banyak pelanggaran yang dilakukan perusahaan pelat merah tersebut. Salah satunya, upaya menyertifikatkan lahan di T2 yang mengakibatkan masalah dobel kepemilikan. Masalah baru pasca pengoperasian T2 adalah kebijakan angkutan moda lanjutan. ’’AP 1 melanggar kesepakaan tidak akan ada lagi penambahan transportasi di T2,’’ ungkitnya. Sejak terminal baru itu dibuka pada Februari 2014, armada angkutan umum bukan hanya taksi Prima dan Wing yang dikelola Primkopal Juanda. Namun, juga banyak taksi nonsedan yang mengangkut penumpang dari T2.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here