Aktivitas di Terminal Peti Kemas Semarang Masih Terkendala Infrastruktur

0
316
ilustrasi peti kemas (kompas.com/Heru Sri Kumoro)
ilustrasi peti kemas (kompas.com/Heru Sri Kumoro)

Semarang – (suaracargo.com)

Aktivitas di Terminal Peti Kemas Semarang, Jawa Tengah, tahun demi tahun terus meningkat. Sarana dan fasilitas yang ada di pelabuhan itu juga terus diperbarui. Namun, kondisi infrastruktur menuju ke sana masih menjadi kendala untuk menarik para pelaku ekspor-impor mengirimkan barang melalui Semarang.

General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Erry Akbar Panggabean mengatakan hal tersebut ketika berkunjung ke Kantor Redaksi Kompas Perwakilan Jawa Tengah di Kota Semarang, Senin (3/8). “Kami saat ini bisa berkata, TPKS sekarang semakin andal, banyak perubahan dan pembenahan yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan,” ujar Erry.

Ia lalu menjelaskan, dari sisi sumber daya manusia, kualitasnya ditingkatkan dengan mengikuti berbagai studi dan pelatihan. Luas lapangan penumpukan ditambah dari 23 hektar menjadi 28,3 hektar. Jalan baru dibuat, serta kapasitas tempat sandar kapal juga ditambah.

Sistem online juga telah dikembangkan sehingga pembayaran dapat dilakukan kapan saja dan dapat terus terpantau. Selain itu, sistem tersebut juga dibuat terintegrasi dengan instansi lain, seperti Bea dan Cukai. Rob atau limpahan air laut ke daratan di dalam kompleks pelabuhan telah diatasi dengan sistem polder.

“Pengiriman logistik adalah salah satu prasyarat untuk menjadi negara maju. Kami sudah membenahi apa yang menjadi tanggung jawab kami. Sayangnya, infrastruktur menuju pelabuhan masih buruk sehingga tidak banyak yang tertarik mengirimkan barang melalui Semarang,” kata Erry.

Infrastruktur yang dimaksud adalah jalan utama menuju Pelabuhan Tanjung Emas, yaitu Jalan Ronggowarsito, yang berhadapan langsung dengan pintu masuk pelabuhan. Jalan itu masih tergenang rob hampir setiap waktu dan pada saat-saat tertentu tinggi genangan air bisa mencapai 15 sentimeter. Di kanan-kiri jalan tersebut juga relatif tidak tertata, dan banyak dijadikan tempat parkir truk-truk besar.

“Kami berharap ini dapat menjadi komitmen bersama. Sebanyak 90 persen pengiriman melalui TPKS adalah ekspor-impor ke dan dari berbagai negara di Asia, Amerika, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika, sisanya domestik,” ujar Erry.

Manager Operasi TPKS Edy Sulaksono mengatakan, aktivitas TPKS pada semester pertama tahun 2015 meningkat sebesar 8,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tahun 2014, arus bongkar muat peti kemas mencapai 600.000 twenty foot equivalent unit (TEU). Di tengah perekonomian nasional yang tengah stagnan atau bahkan lesu, angka kenaikan itu, menurut Edy, menunjukkan masih terjadi pertumbuhan di Jawa Tengah.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here