Alasan Kapal Besar Tak Bisa Sandar di Pelabuhan Tanjung Laut

0
312
SEMAKIN MELEBAR: Pantas Sihombing, menunjukkan kawasan permukiman warga semakin melebar hingga ke tengah alur masuk menuju Pelabuhan Tanjung Laut salah satu faktor penghambat pembenahan pelabuhan. (FAHMI FAJRI/BONTANG POST)

Bontang – (suaracargo.com)

Rencana pengerukan Pelabuhan Tanjung Laut agar sesuai standar masih terhambat keberadaan permukiman. Permukiman tersebut menjadi kendala yang terbilang sulit untuk ditertibkan, selain kendala dari sertifikasi lahan.

Kasi Lalu Lintas dan Pelayanan Jasa Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Klas I (Syahbandar) Tanjung Laut, Pantas Sihombing mengatakan, beberapa rumah mengganggu alur masuk menuju pelabuhan. Rumah-rumah tersebut awalnya berada di darat, lambat laut para penghuninya memperluas rumah mereka dengan membangun dapur ataupun kamar mandi di atas laut. Setelah itu, ditambah lagi dengan tempat parkir kapal.

“Dari awal, alur masuk menuju Pelabuhan Tanjung Laut seluas 50 meter, kini hanya tersisa sekitar 30 meter. Belum lagi perahu milik warga sekitar menyimpan jangkarnya di tengah alur masuk, ada talinya juga. Otomatis, kapal-kapal besar menolak masuk ke pelabuhan,” terang Sihombing saat ditemui belum lama ini.Promo CSMCARGO Ramadhan

Dia menegaskan, bukan hanya lalu lintas laut yang dipertimbangkan, melainkan faktor yang mengganggu alur masuk. Di antara faktor pengganggu tersebut adalah permukiman penduduk yang semakin melebar ke laut. Sihombing mengaku, usulan pengerukan sudah diajukan ke Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI), bahkan dari Kemenhub beserta konsultan sudah meninjau area Pelabuhan Tanjung Laut.

Tetapi, harus dievaluasi kembali wilayah sekitar cocok atau tidak. Kalau permukiman bisa ditertibkan, dan hanya ada bangunan seberang jalan yang menghadap ke laut saja, sepertinya pengerukan bisa dilakukan. Karena dengan rencana pengerukan kedalaman, juga alur lebar, rumah-rumah warga tersebut terhitung. “Nantinya kalau sudah bersih, akan diturab dan dikeruk hingga kedalaman sekitar 9 meter,” ujarnya.

Selama ini, semenjak Pelabuhan Tanjung Laut ada, kata Sihombing, belum pernah dilakukan pengerukan. Syahbandar sendiri selalu mengajukan, tetapi banyak terkendala. Sehingga, saat ini kapal yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Laut hanyalah kapal layar motor (KLM).

Dulu, kapal pengangkut besi pernah masuk, namun seiring terjadinya pendangkalan pelabuhan, kapal tersebut tak mau lagi masuk ke Pelabuhan Tanjung Laut.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Bontang, Basri Rase pun pernah berencana menggusur permukiman di atas laut, namun belum tahu progresnya seperti apa. “KLM sendiri mengangkut semen, kalau mau masuk tunggu air pasang dan perahu-perahu nelayan kosong. Dulu kapal sembako juga masuk, sekarang mereka menolak dan memilih jalur darat, hal itu yang memicu harga bahan pokok di Bontang mahal,” tutupnya, seperti dilansir bontang.prokal.co.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here