ALFI DKI Jakarta Tuntut Perbaikan Layanan Dokumen Cargo di Bandara Soekarno-Hatta

0
226
ilustrasi Bandara Soekarno-Hatta (Widodo Jusuf / Antara)
ilustrasi Bandara Soekarno-Hatta (Widodo Jusuf / Antara)

Jakarta – (suaracargo.com)

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dituntut segera memperbaiki layanan penerbitan dokumen kepabeanan pemasukan barang impor melalui bandara Soekarno-Hatta. Tuntutan tersebut disampaikan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta. ALFI mengajukan tuntutan itu agar ongkos logistik melalui moda angkutan udara bisa ditekan.

Sekretaris Wilayah ALFI DKI Jakarta, Adil Karim, mengatakan saat ini layanan dokumen kepabeanan impor di Bandara Soekarno Hatta belum beroperasi 24 jam. Para pemilik barang kerap kali harus menanggung lagi tambahan biaya untuk penumpukan atau storage di gudang yang ada di sekitar kawasan bandara.

“Dunia usaha berharap adanya perbaikan dari sisi jam layanan dokumen, antara lain jam operasional khususnya untuk dokumen impor, dan bagi yang sudah mengantongi surat perintah pengeluaran barang (SPPB) dapat dilayani paling tidak sampai jam 21.00 WIB setiap harinya sehingga dapat memangkas biaya storage di gudang minimal satu hari di mana besaran sewa gudang saat ini sebesar Rp.1.250/kg,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (20/1/2015) pagi.

Dia juga mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh ALFI DKI dari kantor Bea dan Cukai Soekarno Hatta, saat ini jumlah dokumen kepabeanan yang dilayani rata-rata mencapai 300 dokumen/hari. Sementara, pergerakan barang ekspor impor di bandara tersebut sekitar 500 ton/hari melalui bandara tersibuk di Indonesia itu.

Adil lalu mengungkapkan, kantor pelayanan dan pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Soekarno-Hatta, memang sudah melakukan sejumlah upaya dalam rangka program perbaikan layanan dokumen kepabeanan di bandara tersebut.

Tetapi, perbaikan itu belum berjalan maksimal akibat minimnya koordinasi dengan stakeholders terkait lemahnya pengawasan instansi tersebut di lapangan.

Akibatnya, kata dia, persoalan inward manifest untuk mengurangi redress atau perbaikan dokumen yang sampai saat ini masih mengganggu kelancaran arus barang. Sehingga, ekonomi biaya tinggi, masih menjadi persoalan serius yang mesti dibenahi dalam layanan dokumen ekspor impor di bandara tersebut.

Oleh sebab itu, ALFI mengusulkan perlu dilakukan koordinasi antara operator penerbangan (airline), ground handling, Bea dan Cukai setempat serta asosiasi terkait untuk menyelesaikan kembali masalah inward manifest tersebut.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY