Ambil Alih Poros Maritim Dunia, Indonesia Gandeng Tiongkok dan India

0
513
Kapal Induk Vikramaditya milik Angkatan Laut India. (Foto: Snafu Solomon Blogspot) - jurnalmaritim.com
Kapal Induk Vikramaditya milik Angkatan Laut India. (Foto: Snafu Solomon Blogspot) – jurnalmaritim.com

Surabaya – (suaracargo.com)

Menjadi Poros Maritim Dunia berarti bisa mengambil alih poros pelayaran perdagangan dunia yang saat ini masih didominasi kepentingan ekonomi internasional negara-negara besar dunia. Dominasi tersebut direpresentasikan di kawasan Asia Tenggara oleh Singapura. Dominasi perdagangan itu sendiri merupakan bentuk kolonialisme zaman dahulu yang masih bertahan hingga sekarang.

“Negara kaya ingin mempertahankan dominasinya melalui pelayaran internasional,” ujar Prof. Daniel M. Rosyid dalam perbincangannya bersama JMOL, Sabtu (25/10/2014) yang telah dilansir oleh jurnalmaritim.com

Menurut Daniel, jika mau mengambil alih posisi poros pelayaran dunia, Indonesia tidak bisa sendirian. Indonesia harus mengajak Tiongkok dan India sebagai partner membangun poros baru. “India dan Tiongkok paling tidak bisa menjadi balance,” papar Daniel.

Mengapa harus Tiongkok dan India? Karena, Tiongkok dan India saat ini menjadi titik tumpu pertumbuhan dunia. Daniel juga menjelaskan bahwa meski mereka bukan Negara Maritim, namun mereka sedang membangun kekuatan maritim. “Kita punya posisi strategis. Sekarang, harus lewat Singapura. Tantangan kita menjadi Poros Maritim adalah mengalahkan Singapura,” ungkap Daniel.

Merebut posisi Singapura bagi Indonesia, menurut Daniel, bisa dilakukan dengan membangun pelabuhan berstandar internasional di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Dengan tingkat efisiensi yang tinggi dan perencanaan tata ruang hinterland yang kuat, pembangunan itu bisa menjadi strategi pengurangan dominasi tersebut.

Lebih lanjut Daniel menjelaskan bahwa persoalan dominasi Singapura bukan hanya persoalan posisi, namun juga persoalan koneksi. Koneksi jalur pelayaran perdagangan dunia saat ini dimonopoli oleh Singapura. “Koneksi ini juga harus kita lawan,” tegasnya.

Daniel melihat, melawan dominasi Singapura dalam pelayaran internasional sejalan dengan strategi Bung Karno dan Gus Dur. Apabila platform kebijakan yang dilandaskan kepada doktrin Nawacita sebagaimana dicetuskan Bung Karno konsisten dijalankan, seharusnya bisa diarahkan untuk melawan dominasi tersebut. “Kebijakan Jokowi, jika melihat Nawacita, seharusnya ke arah sana. Kita harus kembali ke strateginya Bung Karno dan Gus Dur. Hanya keduanya keburu jatuh. Kalau Pak Jokowi mengerti jalan pikirannya Bung Karno, seharusnya bisa itu dijalankan,” pungkas Daniel.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here