Ambisi BP Batam Jadikan Batuampar Pelabuhan Internasional

0
322
Sejumlah pekerja sedang memasang rel untuk crane di dermaga utara Pelabuhan Batuampar, Batam, Rabu (10/12). Saat ini kapasitas bongkar muat Pelabuhan Batuampar sebesar 250 ribu TEU's (twenty feet equivalent units/unit padanan dua puluh kaki) per tahun, Badan Pengusahaan (BP) Batam mengalokasikan Rp360 miliar selama tiga tahun sejak 2012 untuk menambah dermaga sehingga pelabuhan yang berhadapan langsung dengan Singapura ini akan memiliki kapasitas 600 ribu TEU's, yang dijadwalkan selesai tahun ini. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)
Sejumlah pekerja sedang memasang rel untuk crane di dermaga utara Pelabuhan Batuampar, Batam, Rabu (10/12). Saat ini kapasitas bongkar muat Pelabuhan Batuampar sebesar 250 ribu TEU’s (twenty feet equivalent units/unit padanan dua puluh kaki) per tahun, Badan Pengusahaan (BP) Batam mengalokasikan Rp360 miliar selama tiga tahun sejak 2012 untuk menambah dermaga sehingga pelabuhan yang berhadapan langsung dengan Singapura ini akan memiliki kapasitas 600 ribu TEU’s, yang dijadwalkan selesai tahun ini. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)

Batam – (suaracargo.com)

Badan Pengusaha (BP) Batam masih berambisi menjadikan Pelabuhan Batuampar, yang berkapasitas 600ribu TEUs, dan megaproyek Pelabuhan Tanjungsauh senilai Rp7 triliun untuk menjadi penghubung (hub) utama internasional ekspor-impor Indonesia di Selat Malaka.

“Kami juga sudah meminta Kementerian Koordinator Maritim mendukung pelabuhan di Batam itu sebagai hub di salah satu selat tersibuk di dunia yang dilintasi empat rute perdagangan internasional,” kata Direktur Promosi dan Humas BP Batam Purnomo Andiantono di Batam, Senin (16 Juni 2015)

Ia mengatakan, untuk merealisasikan keinginan tersebut, BP Batam membutuhkan dukungan sejumlah pihak khususnya dari pemerintah pusat. “Selain letaknya yang paling dekat dengan Selat Malaka, kami yakin infrastruktur pelabuhan seperti Batuampar yang terus ditingkatkan akan siap menjadi penghubung utama. Megaproyek Pelabuhan Transhipment Tanjungsauh juga ideal menjadi hub mengingat kapasitas kargo bisa mencapai 8 juta TEUs per tahun dan bisa melayani kapal ukuran besar,” kata dia, sebagaimana diberitakan antaranews.com.

Sejak 2012, BP Batam memperluas Pelabuhan Batuampar dengan anggaran Rp366 miliar. Anggaran sebesar itu di untuk membangun dermaga utara sekaligus menambah kapasitas peti kemas menjadi sekigtar 600 ribu TEUs dari hanya 200 ribu TEUs. Di samping Batuampar, sejak 2011, BP Batam juga mencanangkan megaproyek pelabuhan alih jasa berkapasitas 8 juta TEUs di Tanjungsauh.

Proyek senilai Rp7 triliun itu sampai saat ini belum jelas kelanjutannya. Hal itu karena proyek tersebut masih menunggu lampu hijau pemberian status FTZ pada Pulau Tanjungsauh yang menjadi lokasi pelabuhan. “Dengan kesiapan infrastruktur itu Batam dinilai lebih siap menjadi hub yang mengangkut barang dari dan ke Indonesia ke pelabuhan di negara-negara lain,” kata Purnomo.

BP Batam mencatat, selama ini di selat tersebut pergerakan barang ekspor impor dikuasai Port of Singapore Authority (PSA) dengan 60 juta TEUs per tahun dan Port Klang Tanjungpelepas Malaysia sekitar 8 Juta TEUs. Sementara itu, Batam hanya bisa menikmati 200 ribu TEUs per tahun.

Selat Malaka itusendiri saat ini melayani 40 persen pergerakan perdagangan dunia. Sebanyak empat rute perdagangan kini melintasi Batam, yakni trans Asia, Eropa, Amerika dan Australia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here