Anggota DPRD Ancam Tutup Pelabuhan Titan Wijaya

0
437

Bengkulu – (suaracargo.com)

Anggota DPRD Provinsi Bengkulu mengancam akan menutup pelabuhan laut milik PT Titan Wijaya di Ketahun, Bengkulu Utara, karena izin usaha penambangan (IUP) bukan atas nama perusahaan tersebut, tapi Ferman Jaya Ketahun. Selain itu, pihak perusahaan diduga tidak memperhatikan kerusakan lingkungan di sekitarnya, akibat aktivitas dari pelabuhan tersebut.

“Kami akan turun ke lapangan untuk mengecek aktivitas pelabuhan milik PT Titan Wijaya di Ketahun, Bengkulu Utara, dan jika bermasalah di lapangan, kita akan tutup pelabuhan tersebut sampai masalah mereka selesaikan,” kata anggota Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, Edi Sunadar, di Bengkulu, Rabu (19/4).

Ia mengatakan, PT Titan Wijaya selain tidak memperhatikan kerusakan lingkungan di sekitarnya akibat ekploitasi batu gajah di wilayah tersebut. Perusahaan itu saat ini juga masih menunggak pembayaran royalti pertambangan ke Pemprov Bengkulu, sebesar Rp 7 miliar.

“Kami sudah kesal dengan PT Titan Wijaya selain IUP atas nama perusahaan lain juga tidak menunggak pembayaran royalti ke Pemprov Bengkulu, dan eksplotasi batu gajah yang dilakukan perusahaan tersebut menimbulkan kerusakan lingkungan di sekitarnya, sehingga harus diberikan sanksi tegas oleh instansi berwenang,” ujarnya, seperti dilansir beritasatu.com.

Hal senada diungkapkan anggota DPRD Provinsi Bengkulu lainnya, Jonaidi. Ia mengatakan, pihaknya bersama anggota DPRD Komisi III akan turun ke lapangan untuk melihat langsung masalah pelabuhan PT Titan Wijaya.

Sebab, keberadaan pelabuhan perusahaan tersebut sudah sangat dikeluhkan warga Desa Kota Bani, Kecamatan Ketahun karena di sekitar pelabuhan terjadi abrasi serius. Abrasi tersebut mengancam rumah penduduk yang berada di pinggir pantai dekat pelabuhan tersebut.

Oleh karena itu, masalah tersebut harus segera dituntaskan agar masyarakat setempat tidak semakin resah. “Jika perlu untuk sementara pelabuhan tersebut, kita tutup sampai pihak perusahaan dapat menyelesaikan masalahnya dengan warga setempat,” ujarnya.

Hery Simanjuntak, warga setempat mengatakan bahwa adanya pelabuhan khusus milik PT Titan di Desa Kota Bani tersebut menyebabkan terjadi longsor karena abrasi pantai. Hal ini terjadi karena pasir hasil pengerukan pelabuhan diletakkan di sembarang tempat.

Akibatnya, tanaman kelapa sawit warga banyak yang berada di sekitar timbunan pasir hasil pengerukan mati tertimbun longsoran pasir tersebut. “Kejadian ini sudah berulang-ulang dilaporkan warga ke pihak perusahaan, tapi tidak direspons, sehingga masyarakat resah,” ujarnya, seperti dilansir beritasatu.com.

Untuk warga berharap DPRD Bengkulu segera memanggil pihak perusahaan, sehingga masalah yang dihadapi warga di sekitar pelabuhan PT Titan Wijaya dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

“Jika pihak perusahaan tetap membantal tidak menanggapi kelurahan masyarakat, sebaiknya pelabuhan laut milik PT Titan Wijaya ditutup saja karena kehadiran pelabuhan ini tidak memberikan dampak positif bagi warga setempat kecuali disinyalir telah merusak lingkungan sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Titan Wijaya belum dapat dikonfirmasi terkait keberadaan pelabuhan laut milik mereka di Desa kota Bani, Bengkulu Utara diduga merusak lingkungan dan IUP yang dimiliki atas nama perusahaan lain.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here