Angkasa Pura II Optimis Potensi Logistik Bandara Silangit

0
683
ilustrasi cargo udara (kaltimpos.co.id)

Jakarta – (suaracargo.com)

Angkasa Pura II optimistis Bandara Silangit yang terletak di Sumatera Utara akan menjadi bandara baru yang memiliki potensi yang baik bagi sektor logistik.

Deputi Kargo Angkasa Pura II Siswanto menyebut bahwa AP II optimistis dengan masa depan Bandara Silangit. Bandara itu diperkirakan akan menjadi pangsa pasar kargo penerbangan baru yang baik bagi para pengusaha freight forwarder.

“Saat ini terakit potensi logistik, para pengusaha forwarder ini juga harus melihat dari 13 bandara yang kami miliki ada bandara termuda, Bandara Silangit, meski hanya singgai pesawat 3x seminggu tetapi potensinya besar,” ujar Siswanto, Rabu (10/2/2016).

Siswanto pun mengakui AP II tengah mempersiapkan logistics facility untuk kargo udara guna memperbaiki sistem pengangkutan barang di penerbangan dan menjawab banyaknya permintaan arus logistik melalui angkutan penerbangan. “Kami akan menyusun infrastruktur untuk logistic facility sesuai keputusan regulator, apa saja kriteria ideal dari infrastruktur,” ungkap Siswanto, seperti dilansir bisnis.com.

Siswanto menyatakan, saat ini sangat banyak pihak maskapai penerbangan yang menginginkan standar pelayanan yang tinggi dan baik untuk kargo udara. AP II akan segera mendeklarasikan secara jelas batas kewenangan dan tanggung jawab pihaknya sendiri terkait ground handling.

Selaras dengan hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki N Hanafi mengatakan bahwa saat ini tingkat arus barang dalam perdagangan mulai beralih ke arah e-commerce. Secara otomatis, hal tersebut meningkatkan permintaan barang untuk konsumen melalui kargo udara.

“Saat ini saja mal terbesar adalah amazon.com, ada pula Alibaba, konsumen ingin barang bagus yang murah dan tercepat sampai ke konsumen,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, angkutan darat semakin berkurang peminatnya. Di sisi lain, angkutan darat di Indonesia adalah angkutan yang termurah dari ukuran per kilometer meskipun belum mampu menurunkan tingginya biaya logistik.

“Biaya logistik tetap tinggi karena kurangnya infrastruktur, inilah alasan pemerintah sangat mengupayakan pembangunan infrastruktur saat ini,” tutur Yukki.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here