Angkutan Barang Overload Jadi Momok di Jalur Pantura

0
298
ilsutrasi truk barang (beritadaerah.co.id)
ilsutrasi truk barang (beritadaerah.co.id)

Semarang – (suaracargo.com)

Kelebihan muatan angkutan barang masih menjadi momok bagi penanganan jalan pantai utara Jawa Tengah. Padahal, jalur rel ganda atau double track sudah dapat dioperasikan sebagai alternatif guna mengurangi beban jalan darat.

Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional V Hedy Rahadian mengatakan, saat ini lalu lintas harian (LHR) pantura Jateng berada di atas 30.000 kendaraan per hari. Kondisi itu ditambah dengan rasio volume lalu lintas terhadap kapasitas jalan di kisaran 0,6-0,7. Kondisi yang jauh lebih padat, tambah Hedy, dapat terjadi ketika arus mudik jelang dan setelah Lebaran. “Dari sisi rasio kepadatan sudah sangat, apalagi pada jam-jam puncak. Rasio di atas 0,5 itu sudah di atas kapasitas jalan,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (16/2/2015).

Kondisi itu niscaya terjadi akibat besarnya beban angkutan barang di Pantura. Menurut Hedy, sekitar 30% lalu lintas di pantura dikuasai oleh angkutan barang. Selain itu, lanjutnya, tidak jarang bobot angkutan barang di jalan pantura berada di atas kapasitas Muatan Sumbu Terberat (MST). Padahal, dia menyebutkan sebagian besar jalan pantura dirancang hanya dapat dilewati kendaraan barang MST 10 ton. “Seringkali truknya sekitar 40%-50% di atas kapasitasnya ,” ujarnya.

Hedy menilai kondisi tersebut menunjukkan arus barang masih dominan melalui jalan pantura. Padahal, saat ini jalur rel ganda (double track) Pantura, yang diharapkan bisa menjadi alternatif bagi angkutan barang dan mengurangi beban jalan, kini sudah beroperasi. Karena itu, dia berharap, para pengusaha angkutan barang dapat segera mengalihkan angkutan barang dengan moda transportasi kereta.

Di sisi lain, Hedy menilai optimalisasi angkutan barang dengan kereta masih membutuhkan waktu. Infrastruktur tambahan, seperti terminal-terminal baru, harus dapat segera direalisasikan. Jika tidak, dia menuturkan jalan Pantura akan tetap menjadi pilihan angkutan barang karena dianggap lebih murah. “Gubernur Jateng sudah berinisiatif agar semen dan baja didorong ke sana . Tapi itu butuh infrastruktur, jadi butuh waktu. Saya harap pengusaha jangan hanya mau yang menguntungkan, tapi merugikan negara,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, Hedy menuturkan penanganan total jalan pantura akan sulit direalisasikan saat ini. Selain berdasarkan anggaran, penanganan berupa pengaspalan atau pembetonan jalan juga perlu memerhatikan kondisi kepadatan jalan. Perbaikan ruas yang terhitung pendek bahkan dapat menyebabkan macet yang sangat panjang. “Pantura kondisinya ekstrim, jalan tidak terlalu tinggi, genangan, muka air, curah hujan tinggi.”

Seperti diketahui, pemerintah akan mengalokasi dana Rp1,4 triliun untuk penanganan Jalur Pantura sepanjang tahun 2015. Dari total dana tersebut, Provinsi Jawa Barat akan mendapat alokasi dana sebesar Rp292 miliar. Sementara itu, Provinsi Jawa Tengah mendapat jatah Rp915 miliar, sedangkan Provinsi Jawa Timur mendapat Rp204 miliar.

Sebelumnya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan akan mendorong pengalihan angkutan barang dari darat ke kereta. Dia mengakui angkutan barang seperti semen menjadi beban bagi penataan dan peningkatan infrastruktur darat. Gubernur menyatakan penataan infrastruktur transportasi kereta mesti didukung dengan sarana angkutan yang tepat bagi distribusi barang. “Kita akan dorong penataan itu agar beban jalan bisa berkurang,” katanya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY