Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Logistik, Porter.id Padukan Layanan Konservatif dan Outsourcing

0
418
Richard Cahyanto, CEO dan Co-Founder Porter.id

Jakarta – (suaracargo.com)

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang mendorong meningkatnya kelas menengah dan konsumsi masyarakat, kebutuhan logistik terus meningkat sebesar 15% setiap tahunnya. Di tahun 2014 saja, menurut data dari Fost & Sullivan, market size logistik setara dengan APBN atau sekitar Rp 1.800 triliun.

Selain itu, faktor pendorong lainnya adalah sebanyak 15-20% urusan logistik dari perusahaan dilempar ke pihak ketiga atau alih daya (oursourcing). Menurut Zaldy Ilham Masita, Presiden Asosiasi Logistik Indonesia, setiap tahun jumlah tersebut akan terus meningkat.

Melihat peluang itu, Richard Cahyanto (28) mengajak rekan-rekannya untuk membangun sebuah platform inovatif sebagai opsi permasalahan logistik yang ada di Indonesia lewat bendera PT Porter Primalayan Indonesia (Porter.id).

“Sebelum adanya Porter.id, bisnis memiliki dua opsi untuk bidang logistik. Yaitu, memiliki armada sendiri atau menggunakan jasa outsourcing konvensional. Keduanya memiliki kelemahan tersendiri. Nah, bisnis kami menyatukan yang terbaik dari kedua opsi ini sehingga menjadi sebuah solusi yang terbaik untuk bisnis,” jelas Richard pada SWA Online di Jakarta (9/5).

Porter.id adalah sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang on-demand logistics. Perusahaan tersebut didirikan pada bulan Oktober 2015 lalu. Selain Richard, ada Anthony Sadeli dan Jessica Hendrawidjaja. Berbeda dengan Anthony dan Jessica, Richard mengaku hanya dua tahun kuliah di Singapore Management University lalu sempat bekerja sebagai konsultan makanan dan minuman di Singapura. Setelah itu, ia kembalinya ke Indonesia dan mengajak kedua sahabatnya itu untuk membangun Porter.id

Porter.id menargetkan klien dengan cakupan yang sangat luas. Semua perusahaan dan bisnis yang membutuhkan layanan logistik siap diprospek oleh Porter.id. “Saat ini banyak sekali jenis usaha, baik e-commerce maupun konservatif yang membutuhkan usaha logistik yang handal dan terpercaya. Sayangnya, belum ada jasa logistik yang robust dan reliable untuk membantu usaha mereka,” lanjut Richard yang menjadi pemimpin untuk tim yang berjumlah 18 orang.

Dengan modal armada kendaraan roda dua, Porter.id dapat memastikan barang yang diantar oleh klien di wilayah Jadetabek dapat dijangkau dengan harga yang lebih murah. Meski tidak merinci harganya, Richard membeberkan bahwa jika harga yang lebih murah itu bukan dari prinsip ‘bakar uang’. Tetapi lewat model bisnis secara keseluruhan yang dirancang. Dan juga menjaga kepercayaan dari klien yang sudah ada.

Ia mencontohkan, jika ada armada yang mengantar barang ke satu tempat, lalu sekembalinya ke tempat semula tidak membawa barang. Maka, cost yang dikeluarkan jauh lebih mahal. Lewat sistem yang sudah teruji, seperti fitur live tracking dan delivery management system. Richard memastikan bahwa setiap armada Porter.id akan tetap mengantar barang dua arah sekaligus sehingga lebih efisien.

Semakin rajin porter mengirim barang, semakin banyak pula pendapatan yang ia terima. Richard mengklaim, jumlah pendapatan porter (pengantar barang) berada di atas upah minimun regional Jakarta.

“Uji coba system delivery network pertama kali kami pakai, lewat platform kakilima.porter.id. Setelah 3-4 bulan kami coba dan ternyata sangat baik hasilnya. Lebih dari 800 pedagang kali lima yang terdaftar dan rupanya hal itu yang membuat Jakarta smart city menggandeng kami,” lanjut Richard.

Segala jenis barang, baik dari makanan, alat elektronik ataupun dokumen siap dilayani Porter.id. Dengan modal utama adalah kepercayaan, sebanyak 50 armada yang sudah bergabung siap untuk mengantarkan barang ke tujuan dengan aman. Di akhir 2016 ini, ditargetkan jumlah armada sebanyak 300.

Porter.id memang sengaja tidak memperbanyak jumlah armadanya, untuk bergabung sebagai porter pun sangat selektif dan ada pelatihannya terlebih dahulu. Dengan system delevery network yang sudah teruji, RIchard sangat optimis jumlah yang ada bisa mencover semua klien.

“Yang kami terapkan adalah prinsip batasan wilayah dan kapasitas orderan. Semakin luas wilayah yang dijangkau, maka semakin banyak jumlah kirimannya,” jelas Richard.

Maksudnya, jika ada satu perusahaan yang sudah memakai jasa Porter.id lalu ia cocok dengan layanannya, maka ia akan menggunakan kembali untuk pengiriman ke wilayah lain dengan jumlah kiriman yang bisa lebih besar dari sebelumnya.

Mengenai investasi yang keluar lebih dari Rp 1 miliar, Richard mengaku posisi Porter.id yang di tahap bootstrapping. Saat ini masih menggunakan dana dari para pendiri dan juga angel investor. Beberapa Venture Capital sedang dijajaki untuk masuk pada tahap Seed. Harapannya jika sudah ada pendanaan selanjutnya, bisnis yang dibangun bisa berusia panjang.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here