API Usulkan 3 Langkah Strategis Pembenahan Sistem Logistik Nasional

0
302
Ilustrasi cargo (foto:istimewa)

Jakarta – (suaracargo.com)

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengusulkan tiga strategi untuk membenahi sistem logistik nasional dengan cara mengoptimalkan peran pelabuhan darat (dry port). Pembenahan itu dinilai mendesak guna meningkatkan daya saing industri nasional serta memperlancar arus ekspor impor. ”Kalau berbicara logistik, harus mengacu pada daya saing dan efisiensi. Peran dry port sudah mengarah pada efisiensi rantai pasok. Karena itu, perlu dioptimalisasi dengan dukungan pemerintah,” kata Sekjen API Ernovian G Ismy di Jakarta, seperti dilansir okezone.com.

Menurut dia, tiga langkah yang diusulkan API adalah, pertama, memperkuat sinergi antara dry port, pengelola pelabuhan, dan instansi yang terkait di pelabuhan. Kedua, memperbanyak dry port di daerah sentra/kawasan industri dilengkapi dengan dukungan multimoda transportasi yang efisien. Ketiga, memperbanyak jadwal pengangkutan kapal di pelabuhan untuk mempercepat arus ekspor impor.

Ernovian menambahkan, tiga langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan optimalisasi peran pelabuhan saat persaingan global menjadi semakin ketat. Dengan adanya berbagai paket kebijakan yang diusung pemerintah, saat ini merupakan momentum tepat guna melakukan optimalisasi peran dry port dengan tiga langkah konkret. BUMN pelabuhan seperti Pelindo bisa bersinergi dengan dry port, bukan bersaing. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan serta kepastian berusaha, ujarnya.

Ernovian menegaskan, sinergi seperti itu mesti dimaknai sebagai kepentingan nasional agar produk Indonesia memiliki daya saing yang tinggi bila dibanding produk luar.

Jika perlu, pemerintah didorong memiliki saham di dry port agar integrasi bisa berjalan untuk menopang sistem logistik nasional yang efisien.

Integrasi itu merupakan salah satu rencana pemerintah untuk memindahkan proses pemeriksaan kontainer, berupa pre-custom clearance, custom clearance, dan post-custom clearance, ke dry port, bukan di pelabuhan seperti Tanjung Priok.

Tujuannya untuk mengurangi waktu tunggu dan bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan. “Saya sudah dengar rencana pemerintah membangun kereta semicepat Tanjung Priok- Surabaya yang akan diintegrasikan dengan dry port.Ini perlu didukung agar realisasinya bisa cepat dan terminal bongkar muat juga diperbanyak,” ucapnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya menegaskan, optimalisasi dry port menjadi solusi paling cepat mengatasi masalah dwelling time.

Dwelling time di Cikarang Dry Port saat ini hanya 2,12 hari, lebih rendah dibanding Pelabuhan Tanjung Priok yang masih 3-4 hari. Menurut Luhut, hasil yang dicapai oleh dwelling time di dry port mesti dioptimalkan guna membantu menurunkan dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan ada dry port, biaya logistik diharapkan turun, mengurangi kemacetan di pelabuhan, serta melahirkan dampak berantai bagi industri nasional.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY