Asosiasi Pertekstilan Indonesia Minta Para Pemangku Kepentingan Kawal PLB Khusus Kapas

0
410
ilustrasi pusat logistik berikat (sentananews.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Asosiasi Pertekstilan Indonesia meminta semua pemangku kepentingan turut mengawal keberadaan pusat logistic berikat atau PLB khusus komoditas kapas.

Ernovian G. Ismy, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengungkapkan hadirnya PLB khusus komoditas kapas di Cikarang Dry Port (CDP) mendorong efisiensi biaya logistik industri nasional. Dengan keberadaan PLB kapas, stok bahan baku tekstil dapat dengan mudah diperoleh dan biayanya kompetitif.

banner-csm-atas

“Kami ingin bahan baku kapas yang murah. Itu yang kami harapkan. Untuk itu tetap harus dikawal bersama-sama. Tidak hanya Bea Cukai, tapi juga pedagang dan pengguna kapas, serta asosiasi,” ujarnya kepada Bisnis.

Menurutnya, keberadaan PLB khusus komoditas kapas di CDP jelas menguntungkan pengusaha tekstil Tanah Air. Pasalnya, mereka tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk mengambil persediaan kapas dari Malaysia. Maklum, selama ini stok komoditas tersebut hanya bisa disimpan di negeri Jiran itu.

“Paling tidak perusahaan tekstil bisa menghemat sekitar US$0,6 sen per kg. Selain itu, kita bisa mengalihkan uang sekitar Rp1,2 miliar per tahun yang selama ini dinikmati oleh Malaysia.”

Ernovian juga menyambut baik masuknya stok kapas dari Brasil ke PLB di Cikarang Dry Port. Dia menjelaskan, jika nantinya proses ini berjalan baik, artinya bisa terjalin azas efektivitas, maka semua persediaan bahan baku akan dipindah ke dalam negeri semua.

Volume kapas untuk pengiriman yang kedua dari Brasil pada Rabu (27/7)  pekan lalu sebanyak 1.000 ton, menyusul pengiriman pertama sebesar 210 ton.

Dengan menggunakan Pusat Logistik Berikat di Cikarang Dry Port, setidaknya terdapat beberapa manfaat yakni menekan biaya logistik, meringankan beban cash flow para pengguna kapas terutama pabrik tekstil.

Dampak yang paling dirasakan dengan adanya gudang di PLB Cikarang Dry Port adalah berkurangnya beban cash flow dari pabrik-pabrik tekstil pengguna kapas hingga tiga bulan ke depan.

Selain itu, pemindahkan hub dari Malaysia untuk impor komoditas kapas tentu akan berpengaruh positif terhadap perkembangan industri tekstil di Indonesia. Apalagi Indonesia merupakan salah satu basis industri tekstil yang cukup disegani di dunia.

Kebutuhan kapas untuk industri tekstil nasional setiap tahun diperkirakan mencapai 650.000 ton hingga 700.000 ton.

Benny Woenardi, Direktur Utama PT Gerbang Teknologi Cikarang sebagai pengelola pergudangan dan PLB di Cikarang Dry Port, menjelaskan selama ini pengadaan impor kapas Indonesia masih didominasi impor langsung shipper dari luar negeri sekitar 60%, sebesar 30% di gudang Malaysia, dan sisanya 10% dari retailer yang melakukan impor untuk dijual lagi.

Dia optimistis, PLB kapas di CDP bisa memindahkan gudang kapas Malaysia ke Indonesia sehingga menekan biaya logistik, transportasi, dan pergudangan.

PT Gerbang Teknologi Cikarang mengoperasikan fasilitas pusat logistik berikat (PLB) untuk komoditas kapas dengan area gudang seluas 11.960 meter persegi di kawasan Cikarang Dry Port, Jawa Barat.

Saat ini gudang PLB yang kedua pun sedang dalam tahap pembangunan dan diharapkan selesai paling lambat akhir tahun ini.

Dia berharap, PLB ini membantu Indonesia menjadi hub logistik di Asia Pasifik, khususnya untuk komoditas kapas dan industri tekstil.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here