Atasi Lamanya Dwelling Time, Pemerintah Bentuk Crisis Center Pelabuhan

0
435
ilustrasi pelabuhan (okezone.com)
ilustrasi pelabuhan (okezone.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Dwelling time di pelabuhan selama ini, terutama di Tanjung Priok, memakan waktu yang cukup lama, yakni 5,6 hari lamanya. Angka tersebut masih belum mencapai target seperti yang ditentukan oleh pemerintah, yakni selama 4,7 hari.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo mengatakan, pihak pengelola pelabuhan membutuhkan suatu siasat yang akan mempermudah semua proses dwelling time di pelabuhan.

Salah satu siasat yang akan diterapkan adalah dengan membuat suatu posko terpadu atau crisis centre. Crisis centre tersebut akan berada di pelabuhan Tanjung Priok, dan sistemnya akan menyerupai front dan back office layaknya kantor BKPM.

“Modelnya nanti sama persis seperti ini (sambil menunjuk front office BKPM). Dipindahkan langsung, yang sudah ada INSW. Kemudian yang Bea Cukai dicopy saja. Dibarrier gitu,” ujarnya saat ditemui di kantor BKPM, Jakarta, Selasa (5/5/2015).

Dengan demikian, jika ada suatu kendala atau permasalahan, kantor kementerian/lembaga tidak perlu terlibat untuk mencari solusinya. Crisis centre yang berada di pelabuhan tadi akan menangani semua masalah dari berbagai kementerian/lembaga. “Misalnya ada masalah BPOM, gak usah ke kantor BPOM, tapi langsung ke kantor itu (crisis centre), ambil ini (karcis pendaftaran), masalahnya apa, izin saya di mana,” jelas Indroyono, seperti dilansir okezone.com.

Dengan adanya crisis centre ini, Indroyono berharap, akan dapat mengurangi dwelling time di pelabuhan hingga menjadi 4,7 hari. “Kan targetnya menurunkan dwelling time jadi 4,7 hari. Ini harusnya bisa, Terutama tadi, dari pre custom clearance,” imbuh dia.

Sejauh ini, pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan utama yang kedua menerapkan sistem tersebut. Sebelumnya sudah diterapkan pada PT Terminal Teluk Lamong, Jawa Timur. Namun, Indroyono juga menuturkan, nantinya semua pelabuhan utama di seluruh wilayah Indonesia, akan menerapkan sistem ini.

“Saat ini Tanjung Priok dulu, karena 70 persen barang masuk ke Indonesia ya melalui Tanjung Priok. Yang sudah menerapkan itu di Teluk Lamong Jawa Timur, itu sudah kayak di luar negeri, sudah tidak ada orang lagi semuanya automatic. Priok ini kan pelabuhan kuno, kita modernisasi lah,” pungkasnya.

 

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here