Belum Lancarnya Arus Kapal Ukuran Besar Hambat Realisasi Tol Laut

0
407
ilustrasi pelabuhan (poskotanews.com)
ilustrasi pelabuhan (poskotanews.com)

Surabaya – (suaracargo.com)

Realisasi tol laut masih terkendala belum lancarnya arus beberapa kapal dengan ukuran besar menuju sejumlah pelabuhan di Indonesia. Kendala ini disebabkan karena mayoritas alur di berbagai infrastruktur itu dinilai tidak memadai.

”Dengan tol laut, kami yakin kebijakan pemerintah dapat meningkatkan pengiriman barang melalui jalur laut. Selain itu, tol laut dapat mengalahkan pengiriman barang dari jalur darat,” kata Branch Manager PT RGA International Indonesia (perusahaan pengiriman barang dan jasa) Anie saat pameran kemaritiman di Surabaya, kemarin.

Oleh sebab itu, kata dia, pemerintah diharapkan bisa membenahi dan mampu melakukan keterhubungan antarpelabuhan. Apabila aturan itu diterapkan, maka pengiriman barang akan meningkat dengan cepat. ”Melalui tol laut ini, waktu pengiriman lebih cepat dibandingkan jalur darat yang sampai sekarang harus menembus kemacetan,” ujarnya.

Kebijakan pemerintah itu, ungkap dia, merupakan harapan besar bagi pengusaha, khususnya dalam hal pengiriman barang. Ditambah lagi, realisasi tol laut pada waktu dekat dapat membuat pengiriman barang impor maupun ekspor lebih efisien dibandingkan darat. ”Saat ini saja, biaya logistik untuk pengiriman barang, seperti Surabaya-Singapura mencapai USD 150. Padahal biaya untuk rute Surabaya-Medan sekitar USD250,” katanya, sebagaimana dilansir koran-sindo.com.

Sementara itu, kata dia, tahun 2015 pengiriman barang melalui jalur laut diproyeksikan mengalami penurunan tetapi besarannya minim. Perusahaan itu bisa mengirim barang melalui jalur laut dengan rata-rata sebanyak 2.500 peti kemas per bulan selama tahun 2014. ”Kalau tahun 2015, kami prediksi turun menjadi 2.000 peti kemas per bulan,” katanya.

Di sisi lain, ujarnya, penurunan itu ikut dipicu oleh sikap pemerintah yang menentukan harga bahan bakar minyak (BBM) secara tak menentu. Bahkan, penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah hingga mencapai Rp 13.000 per dolar juga menjadi penyebab penurunan barang.

”Padahal Januari tahun 2014, kami sudah melakukan kontrak dengan perusahaan dalam pengiriman barang. Tapi, kini mereka masih menunggu kondisi ekonomi dan stabilitas harga BBM,” ungkapnya.

Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, tol laut sudah menjadi atensi pemerintah untuk memajukan perekonomian Indonesia. Untuk memasyarakatkan ini, Pelindo mengadakan pameran Indopart Expo tentang kemaritiman di Grand City.

Inti pameran ini lebih pada pengenalan tol laut dan kemaritiman kepada masyarakat. ”Kemaritiman itu banyak, bukan hanya pengiriman barang saja, tetapi bisa konstruksi, galangan kapal, dan perbankan,” katanya.

Dengan adanya pameran ini, Edi berharap akan timbul dampak ekonomi yang baik. Harapan itu timbul karena pemeran ini juga akan menyosialisasikan kesiapan Pelindo menyambut keterhubungan tol laut antarpelabuhan. Kondisi ini terlihat dengan proses pengerukan APBS yang akan selesai dalam waktu dekat.

Bahkan, Pelindo juga menerapkan aturan baru dalam pengiriman barang, yakni pengiriman barang Jakarta-Surabaya dengan biaya Rp2 juta. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi padatnya pengiriman barang melalui jalur darat. Secara efisien, ungkap Edi, biaya pengiriman laut dan darat tidak jauh berbeda. BBM yang digunakan laut masih memakai harga industri, sedangkan jalur darat memakai biaya subsidi. Jika subsidi dicabut, Edi menegaskan, biaya yang dikeluarkan melalui jalur laut lebih efisien, baik waktu maupun biayanya. ”Kalau mau adil sih, seharusnya biaya BBM jalur darat juga dicabut, biar sama-sama melakukan persaingan sehat,” ungkapnya.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf mengatakan, tol laut merupakan solusi dalam mengatasi masalah pengiriman barang. Proses pengiriman barang melalui jalur darat sudah semakin padat dan rentan macet. ”Adanya Pelabuhan Teluk Lamong diharapkan mampu mengurai kemacetan dalam pengiriman barang. Saya yakin itu bisa mendongkrak perekonomian di Jawa Timur,” katanya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here