BP Batam Cari Partner Untuk Kelola Pelabuhan Batu Ampar

0
454
Pelabuhan Batuampar, Batam (beritatrans.com)

Batam – (suaracargo.com)

Badan Pengusahaan (BP) Batam saat ini sedang mencari partner untuk mengelola Pelabuhan Batu Ampar. Pelabuhan kontainer tersebut sedang dilelang dengan nilai investasi sebesar Rp 2 triliun.

”Sekarang ini kita lelang ulang. Sebelumnya sudah kita lelang, tetapi hanya dua peminatnya. Padahal setahu saya minimal harus tiga perusahaan yang ikut lelang,” kata Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andiantono, Kamis (21/1).

Andi mengatakan, PT Pelindo I menyatakan minatnya untuk ikut dalam pengelolaan pelabuhan bongkar muat peti kemas ini. Di mana perusahaan tersebut sudah melakukan peninjauan.

”Nilai investasi yang kita lelang di sana Rp 2 triliun. Perusahaan pemenang lelang juga harus bisa membeli crane otomatis di sana,” katanya, seperti dilansir batampos.co.id.

Menurut Andi, crane pengangkut barang di sana wajib ada dan harus canggih agar bisa melayani bongkar muat barang. Sebab, selama ini, bongkar muat barang dari kapal di Pelabuhan Batu Ampar hanya mengandalkan crane yang ada di dalam kapal itu sendiri.

Kapastitas pelabuhan tersebut maksimal 200 ribu twenty-foot equivalent units (TEUs). Tetapi setiap tahunnya Pelabuhan Batu Ampar hanya menampung sekitar 80.000-100.000 TEUs atau hanya sekitar 50 persen setiap tahun.

”Kita akui memang sangat minim. Setiap bulannya maksimal 30 ribu TEUs, itu sudah termasuk bongkar muat lokal dan ekspor impor,” jelasnya.

Andi menuturkan, kondisi tersebut juga tidak lepas dari panjang dermaga selatan Batu Ampar yang sangat terbatas. Dermaga tersebut panjangnya hanya sekitar 600 meter. Kedalaman lautnya pun sangat dangkal, hanya sekitar 9 meter. ”Jadi wajar kalau kapal bersandar di sana (Pelabuhan Batu Ampar) hanya kapal-kapal kecil,” ujarnya.

Padahal, sambungnya, kapal yang hendak bongkar muatan di Batam adalah kapal-kapal yang berukuran besar atau mother vessel. Tetapi, kapal-kapal tersbut akhirnya mengalihkan bongkar muatnya di Singapura karena infrastruktur pelabuhan di Batam yang jauh tertinggal.

Kedalaman laut yang dibutuhkan mother vessel agar bisa merapat minimal 12 meter.”Kalau kapal mother vessel sandar di Batam, tidak akan bisa. Lautnya terlalu dangkal. Tidak seperti di Singapura yang memang sudah sangat maju,” terangnya.

Ditanya mengenai dwelling time di Pelabuhan Batu Ampar, Andi menegaskan sangat singkat. Bahkan bisa dikatakan hanya hitungan jam. Apalagi, fasilitas FTZ yang disematkan ke Batam sangat membantu karena tidak diperlukan lagi pengecekan dari Bea Cukai dan instansi lainnya.

”Untuk saat ini, sangat singkat. Kapal sandar di pelabuhan langsung bongkar dan langsung selesai,” sebutnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here