Buruh dan Sopir Tidak Bisa Bekerja di Pelabuhan Samudera

0
551
Puluhan buruh bongkar muat semen dari ekspedisi muatan kapal laut (MKL) dibawah naungan asosiasi logistik Alfi Ilfa, terpaksa harus gigit jari
Puluhan buruh bongkar muat semen dari ekspedisi muatan kapal laut (MKL) dibawah naungan asosiasi logistik Alfi Ilfa, terpaksa harus gigit jari

Bitung – (suaracargo.com)

Puluhan buruh bongkar muat semen dari ekspedisi muatan kapal laut (MKL) dibawah naungan asosiasi logistik Alfi Ilfa, terpaksa harus gigit jari. Kegiatan mereka melakukan bongkar muat semen Tiga Roda Indocement dari atas KM Bunga Teratai XXI GT 1368 No 257/Ka 2010 Ka No 4289/L tidak bisa dilakukan karena pihak pemilik barang sudah tidak mempergunakan jasa mereka sebagai buruh bongkar muat semen dan memilih memakai tenaga para buruh dari Perusahan Bongkar Muat (PBM) milik PT Pelindo Bitung di Dermaga Pelabuhan Samudera, Senin (9/3).
.
“Kami kaget dan bertanya-tanya tiba-tiba saat hendak melakukan aksi bongkar muat Semen Tiga Roda dari kapal ke mobil truk kami dilarang dan sudah tidak diizinkan,” keluh Agus (36). Menurutnya, kondisi ini baru kali ini terjadi. Sejak 14 tahun yang lalu, kegiatan bongkar muat semen Tiga Roda dilakukan oleh buruh. Namun sekarang, dirinya bersama ratusan buruh bongkar muat semen dan sopir truk yang mengabdi di Semen Tiga Roda tidak lagi mendapatkan pekerjaannya.

“Biasanya setiap ada kapal angkut semen yang hendak bongkar di pelabuhan, semen-semen itu awalnya diturunkan dari kapal kedalam mobil truk lalu dibawah di gudang dan kami yang bongkar namun kini sudah tidak lagi semen yang dari kapal langsung di turunkan ke dermaga lalu diangkut oleh forklip keatas truk tronton,” tuturnya.

Selama ini, dalam kegiatan bongkar muat semen, dirinya bisa membongkar 400 sak semen bersama tiga orang buruh lainnya untuk dinaik turunkan dari mobil truk Toyota 6.000. Untuk upah yang diperoleh Rp 80 ribu per orang per satu truk. “Sehari bisa dua kali bongkar muat. Dengan tidak ada bongkar muat kami tidak bisa makan karena upah kami harian saat dapat upah baru bisa makan jika tidak ya tidak makan,” tukasnya, sebagaimana dilansir manado.tribunnews.com.

Selain buruh bongkar muat, sopir truk Toyota 6.000 juga merasakan dampaknya. Biasanya, setiap ada kegiatan bongkar semen dari kapal, mobil truk sudah stand by di dermaga dan langsung mengangkut semen yang diturunkan dari kapal menggunakan crant. “Biasanya setelah masuk dalam kendaraan truk, kami langsung bawa ke gudang dan dibongkar oleh buruh,” tutur Hengky Langi (34).

Kini, sopir truk juga harus gigit jari karena saat ini bukan lagi truk yang dipergunakan untuk angkut semen melainkan truk tronton. “Biasanya pembayaran dari aktifitas ini Rp 450 per sak, setiap ada kapal masuk tergantung kapal dan muatan yang diankut hasil atau upah yang kami dapat karena dalam satu truk ada ratusan sak yang kami angkut,” tukasnya.

Victor Mantiri Manager Pelayanan barang dan aneka usaha PT Pelindo IV Bitung menampik kalau pihaknya yang melakukan monopoli aktifitas bongkar muat semen. “Kami tidak monopoli, tergantung pemilik barang mau turunkan dan bongkar oleh siapa bukan dari pelindo,” jelas Victor. Dijelaskan oleh Victor, aktiftas buruh PBM, yang di-handle PT Pelindo melakukan bongkar muat dari kapal ke dermaga atau sebaliknya, sementara buruh dari MKL aktifitasnya pemasukan dan pengeluaran barang dari Pelabuhan. “Jadi harus ada solusi duduk bersama antara pihak MKL dan pemilik barang,” tukasnya

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here