Celah Bisnis Baru Buat (PO) Perusahaan Otto

0
262

“Enggak ah, enakan terbang. Total biayanya lebih murah, dibanding naik bis. Belum lagi capeknya…” Itulah jawaban yang seringkali saya dengar saat orang membicarakan moda transportasi jarak jauh yang digunakan.

Beberapa tahun yang lalu, sebelum banyak maskapai penerbangan berbiaya murah. Saat industri penerbangan hanya dikuasai perusahaan plat merah. Ketika naik pesawat terbang adalah “kemewahan”. Moda transportasi bus antar kota antar propinsi menjumpai masa keemasannya.

Sebut saja misalnya Po. Antar Lintas Sumatera (ALS), yang menguasai jalur Jawa – Sumatera (dari Lampung – Palembang – Jambi – Medan hingga Banda Aceh). Lalu ada PO. Safari Dharma Raya yang menguasai jalur Jakarta – Surabaya – Bali – Mataram hingga Bima (NTT). Merekalah raja untuk transportasi jarak jauh di era tahun 70 an hingga medio 90’an.

Kenapa angkutan darat via bus jarak jauh ditinggalkan ? Paling tidak ada dua alasan yang bisa dikemukakan, yaitu biaya dan waktu.

Ambil contoh tiket bus eksekutif Jakarta – Medan. Tiket yang dibandrol saat ini berkisar antara Rp. 500,000 – Rp. 600,000 untuk sekali jalan. Sementara waktu tempuh dari station to station lebih kurang 2 hari 3 malam.

Bandingkan dengan tiket pesawat terbang, maskapai umumnya mematok tiket sebesar Rp. 800,000 hingga Rp. 850,000. Sedangkan waktu tempuh port to port hanya memakan waktu 260 menit atau 2 jam 20 menit saja.

Memang jika dilihat sepintas, tiket bus lebih murah. Namun jika di kalkulasi secara menyeluruh, biaya lain seperti makan dll, maka tiket penerbangan jaul lebih murah. Belum lagi apabila “biaya” kerugian akibat waktu yang terbuang dihitung. Tentu akan sangat nyata ketimpangannya.

Bagaimana angkutan bus bisa bertahan ditengah gempuran penerbangan berbiaya murah ?

Pertama, mereka harus menyasar rute jarak pendek. Sebagai contoh PO. ALS, yang melayani rute Jakarta – Sumatera. Mereka mengambil penumpang dari Pulo Gadung tujuan lampung. Lalu dari lampung mereka mencari penumpang arah ke Palembang. Begitu seterusnya hingga Medan dan Banda Aceh.

Kedua, perusahaan otto membuka layanan pengiriman barang. Menurut saya, diversifikasi produk ini sangat cerdas sekaligus menjanjikan.

Perusahaan bis tidak lagi hanya fokus pada penumpang, namun juga menerima titipan pengiriman barang.

Target market mereka pun spesifik. Menerima pengiriman klasifikasi “small parcel” dengan waktu penghantaran jauh lebih cepat dibanding truk.

Untuk ongkos pengiriman barang, jasa cargo yang menggunakan truk umumnya mematok harga lebih murah, karena target market mereka adalah “heavy cargo” atau volume besar. Waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman door to door pun berkisar anatara 6 – 8 hari.

Sementara itu, barang titipan menggunakan bus bisa memberikan layanan dengan lead time lebih cepat, berkisar antara 3 – 4 hari. Untuk ongkos pengiriman barang, mereka memberikan tarif sedikit lebih mahal.

Saya pikir ini cukup fair. Lead time lama, ongkos murah. Dan lead time cepat, ongkos lebih mahal. Akhirnya, tergantung pelanggan pilih yang mana diantara dua service yang ditawarkan.

Disatu sisi memang industri transportasi darat bus terpukul dan tergusur oleh industri penerbangan. Namun, di sisi lai mereka mampu mengisi celah baru di industri pengiriman barang.

Mungkin saja sopir, kenek, awak bus dan pelaku bisnis sektor ini tidak pernah membaca buku “Cracking Zones” karya Prof Rhenald Kasali. Akan tetapi, secara tidak sadar mereka telah melakukan apa yang ditulis sang praktisi bisnis nomer wahid di negeri ini.

Tentu saja hal ini sangat bagus buat perkembangan bisnis transportasi dan juga bermanfaat buat pelanggan.

@lambangsarib

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY