Cuaca Ekstrem Dikhawatirkan Ganggu Distribusi Logistik

0
250
Menhub Budi Karya Sumadi (sumeks.co.id)

Jakarta – (suaracargo.com)

Cuaca ekstrem yang terjadi selama awal tahun membuat khawatir Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Yang paling dikhawatirkan adalalah hambatan yang timbul terhadap distribusi logistik di Indonesia. Karena itu, Kemenhub meminta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk meningkatkan teknologi sistem pemantauan cuaca yang lebih detil.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan permintaan tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Jalan Angkasa I, Kemayoran, Jakarta Pusat, kemarin (15/2). Dia menyatakan, peran BMKG cukup penting bagi Kemenhub untuk mencegah terjadinya kecelakaan terutama moda laut dan udara.

“Seperti saat ini, kamu berlakukan larangan melaut karena cuaca ekstrem dan gelombang tinggi untuk mencegah adanya kecelakaan yang tidak diharapkan,” ungkapnya, seperti dilansir sumeks.co.id.

Namun, dia menilai ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan untuk lebih memperbaiki sistem transportasi Indonesia di saat cuaca buruk. Menurutnya, teknologi saat ini belum bisa memberikan informasi yang detail dan real time terkait cuaca yang ada. Sebab, saat ini pihak BMKG masih menggunakan satelit dari negara-negara maju untuk memperoleh informasi cuaca.

Dengan meningkatkan teknologi, lanjut dia, pemerintah bisa lebih detil untuk mengetahui wilayah terdampak sehingga otoritas laut bisa menyediakan peta yang kapal bisa lalu tanpa harus memberlakukan larangan berlayar secara merata. Sebab, tranportasi laut berkaitan erat ini dengan terkait logistik. Dia berharap ada sistem yang memprediksi dimana dan kapan cuaca buruk akan terjadi. “Jadi kalau sebagian terdampak, kami tahu yang mana. Atau semua terdampak tapi bisa diprediksi, logistik kan bisa ditumpuk dulu di daerah yang membutuhkan,” ucapnya.

Dia juga mengusulkan agar Indonesia punya satu satelit independen yang digunakan untuk memantau kegiatan aviasi dan kelautan. Namun, hal tersebut diakui olehnya masih akan didiskusikan lebih lanjut dengan Dirjen Perhubungan Udara, Dirjen Perhubungan Laut dan BMKG.

Di tempat yang sama, Kepala BMKG Pusat Andi Eka Sakya menjelaskan, kendala atau kurangnya informasi yang dibutuhkan di sisi laut disebabkan dari masalah teknis penyebaran informasi. Sampai saat ini pihaknya sudah bisa memantau cuaca di laut hingga perhitungan tinggi gelombang.

“Tapi yang jadi masalah adalah tingkat kerapatan dari teknologi pemantauan kami sehingga informasi yang kami berikan belum cukup detail dan maksimal, peningkatan kerapatan,” ungkapnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY