Dewan Pelabuhan Tanjung Priok Himbau Stakeholder Fokus Turunkan Dwelling Time

0
315
ilustrasi pelabuhan (koran-sindo.com)
ilustrasi pelabuhan (koran-sindo.com)

 

Jakarta – (suaracargo.com)

Dewan Pelabuhan Tanjung Priok mengimbau seluruh stakeholder dan pengelola terminal peti kemas ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta mendukung program menurunkan dwelling time atau masa inap barang/peti kemas menjadi rata-rata 4,7 hari dari saat ini masih rata-rata 5,7 hari.

Menurut Sekretaris Dewan Pelabuhan Tanjung Priok, Capt. Subandi, pihaknya merasa prihatin dengan kondisi dwelling time di Pelabuhan Priok yang saat ini belum mengalami penurunan karena masih rata-rata lebih dari 5,5 hari.

“Seharusnya seluruh stakeholder bahu membahu memperbaiki dwelling time di Pelabuhan Priok. Ini kok justru untuk mencapai dwelling time rata-rata 4,7 hari di Priok sulit karena banyak pihak yang berkepentingan dalam kegiatan penumpukan di lini satu pelabuhan,” kata Subandi di Jakarta, Rabu (19/8), sebagaimana dilansir koran-jakarta.com.

Pria yang juga anggota DPRD DKI dari fraksi partai Nasdem itu merasa prihatin dengan kondisi dwelling time Pelabuhan Priok saat ini. Sementara itu, di sisi lain, baik pihak manajemen Pelindo II maupun pengelola terminal peti kemas ekspor impor di pelabuhan itu sudah menggelontorkan investasi cukup besar untuk memodernisasi peralatan bongkar muat.

Seharusnya, tambahnya, pengelola terminal peti kemas ekspor impor di Pelabuhan Priok lebih fokus menjalankan core businesnya melaksanakan kegiatan bongkar muat peti kemas, bukan menghandalkan pendapatan dari biaya storage/penumpukan peti kemas.disisi lain, harus ada tindakan tegas dibawah kordinasi Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok untuk segera mengeluarkan barang/peti kemas yang sudah melewati batas toleransi waktu penumpukan sehingga target dwelling time rata-rata 4,7 hari bisa direalisasikan.

Saat ini di Pelabuhan Priok, terdapat empat pengelola terminal peti kemas ekspor impor yakni Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, Terminal Mustika Alam Lestari (MAL) dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok.

Adapun dwelling time diperhitungkan berdasarkan kajian Dewan Pelabuhan Tanjung Priok, kata Subandi sulitnya menekan dwelling time di Pelabuhan Priok karena pengelola terminal peti kemas membiarkan kegiatan penumpukan di lini satu pelabuhan.

Melihat kondisi dwelling time di Priok saat ini, Dewan Pelabuhan Tanjung Priok justru menilai instruksi Presiden Joko Widodo untuk segera menekan dwelling time dilecehkan.

“Dwelling time di Priok tidak bisa turun sebab kenyataanya sampai kini masih banyak peti kemas impor yang sudah diatas 5 hari bahkan 10 haripun masih ngendon terminal JICT maupun TPK Koja,”katanya.

Dia menyebutkan, operator terminal peti kemas sangat diuntungkan dengan semakin lama peti kemas menumpuk di container yard, dan kondisi ini juga dinikmati para pemilik barang yang tidak memiliki fasilitas gudang diluar/lini dua pelabuhan Priok.

“Intinya, untuk menekan dwelling time itu OP Priok harus tegas membatasi waktu maksimal penumpukan barang di lini satu pelabuhan,”kata Subandi.

Sementara itu, Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, Bay M.Hasani mengatakan pihaknya akan menjalankan dengan tegas Permenhub yang mengatur batas waktu penumpukan barang/peti kemas maksimal hanya 3 hari di lini satu pelabuhan jika aturan tersebut sudah resmi diundangkan.

“Kalau aturannya seperti itu pasti kami tegakkan di pelabuhan,” katanya.

Sebelumnya, Dirjen Hubla Kemenhub Bobby R.Mamahit mengatakan, Kemenhub sudah menyiapkan Permenhub yang mengatur batas maksimal waktu penumpukan 3 hari di Pelabuhan Priok. Sebelum di implementasikan beleid tersebut harus melalui pengesahan dari Kementerian Hukum dan Ham.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here