Dibandingkan Negara Lain, Waktu Bongkar Muat di Pelabuhan RI Paling Lama

0
306
Pelabuhan Teluk Lamong (Foto: ANTARA / Suryanto)
Pelabuhan Teluk Lamong (Foto: ANTARA / Suryanto)

Jakarta – (suaracargo.com)

Kementerian perhubungan menjelaskan, peranan transportasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional cukup besar. Namun sayangnya, infrastruktur di sektor transportasi tidak memiliki daya saing yang memadai hingga membuat biaya logistisk justru melambung. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Bobby R Mamahit menjelaskan, kinerja sektor transportasi laut saat ini diakuinya memang kurang maksimal. Menurut Bobby, sebagaimana dilansir liputan6.com, ada beberapa penyebab kinerja tersebut menjadi melempem.

Pertama ketidakseimbangan muatan angkutan laut sehingga sistem logistik menjadi tidak efisien dan berdampak pada tingginya biaya ekonomi. Kedua tingginya waktu bongkar muat barang (dwelling time) di Pelabuhan. Ketiga keterbatasan kapasitas angkut moda transportasi laut nasional. Keempat masih adanya beberapa pungutan yang tidak resmi.

Bobby lalu mencontohkan, waktu bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, yang merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia, sangat jauh lebih lama jika dibandingkan dengan negara-negara lain. “Dwelling time di Tanjung Priok bisa sampai 6 hari, jauh lebih lama jika dibanding dengan Singapura yang hanya 1 hari atau Hong Kong yang hanya 2 hari,” jelasnya seperti ditulis Minggu, (24/5/2015). Negara lain yang mempunyai dwelling time hampir sama dengan Indonesia adalah Thailand, yang tercatat 5 hari. Sedangkan di Malaysia, waktu bongkar muat bisa lebih cepat lagi yaitu 4 hari saja.

Khusus untuk masalah bongkar muat, Bobby menjelaskan, yang menjadi penyebab lamanya proses bongkar muat tersebut adalah pada saat pre – customs clearance yang porsinya berkontribusi sampai 71 persen. “Contohnya seperti penerbitan izin barang larangan terbatas yang memakan waktu cukup lama dan pelaksanaannya yang harus dilakukan oleh 18 instansi di luar pelabuhan,” tuturnya. Oleh sebab itu, perlu adanya tindaklanjut dalam penyelesaikan pelayanan pada fase pre – customs clearance dengan 18 instansi terkait di luar pelabuhan sehingga waktu bongkar muat bisa lebih cepat. Selain itu juga perlu pemanfaatan dry port sebagai fasilitas penyimpanan barang guna mengurangi dwelling time di pelabuhan.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here