Dikeluhkan Warga, Pelabuhan Jetty Malalayang Manado Ditutup Syahbandar

0
368
Pelabuhan Jeti Malalayang ditutup oleh Syahbandar karena tak memiliki izin operasi serta mengganggu kenyamanan warga.  (tribunmanado.co.id / Alexander Pattyranie )
Pelabuhan Jeti Malalayang ditutup oleh Syahbandar karena tak memiliki izin operasi serta mengganggu kenyamanan warga.
(tribunmanado.co.id / Alexander Pattyranie )

Manado – (suaracargo.com)

Pelabuhan Jetty Malalayang ditutup oleh Syahbandar karena tak memiliki izin operasi. Kegiatan di pelabuhan itu juga mengganggu kenyamanan warga. Penutupan operasional pelabuhan tersebut ditetapkan melalui surat keputusan PP.008/01/03/KSOP.MDO-15, yang berisikan tentang peraturan yang ditetapkan Menteri Perhubungan. Dengan resmi pada tanggal 3 September 2015, pelabuhan tersebut dihentikan dan tidak diizinkan untuk beroperasi kembali.

Menurut seorang warga sekitar, aktivitas pelabuhan tersebut memang sangat membuat warga terganggu. “Sering tengah malam sampai pagi ada aktivitas, saat menaikturunkan material sangat berisik. Kami sering tidak bisa tidur, saat siang hari kami juga merasa kesulitan karena banyak debu dari tampungan material bangunan di pulabuhan,” ujar warga yang minta namanya dirahasiakan.

Dia juga mengatakan sudah melaporkan hal tersebut kepada pihak pemerintah. “Sering saya lihat ada mobil pengangkut minyak terparkir di pelabuhan,” tambah warga tersebut, seperti dilansir tribunmanado.co.id.

Penjaga lahan pelabuhan juga mengakui bahwa saat ada aktivitas memang sangat berisik. “Saya hanya penjaga, untuk isi muatan saya tidak tahu, tapi sering kali saya lihat banyak tong solar dalam kapal,” ujarnya pria yang juga minta namanya dirahasiakan.

Menurut info yang beredar, pelabuhan tersebut memang sering menjadi tempat penyelundupan barang ilegal, seperti BBM dan penumpang gelap.

Melki Lamangsiang SH selaku kepala Syahbandar, mengatakan, bahwa operasional pelabuhan tersebut dihentikan karena pihaknya menerima keluhan warga. “Pelabuhan itu tidak berizin, kami hanya menjadikan tempat itu sebagai alternatif pelabuhan kapal tongkang. Tapi saat diperbolehkan kami memberi syarat agar tidak ada kompain dari warga serta tidak boleh muat barang ilegal,” ujarnya.

Ia mengatakan, hal itu dilakukan untuk menunjang kemajuan daerah sebab banyak pulau terluar yang dalam proses pembangunan membuhtukan bahan material. Lanjutannya, untuk masalah penumpang gelap, pihak Syahbandar mengaku belum mengetahui.

“Kami akan cross check masalah penumpang gelap. Untuk masalah penyelundupan BBM kami juha belum tahu, yang jelas jika akan memuat BBM meski hanya untuk kebutuhan kapal harus lapor kepada kami,” tambahnya.

ihak Syahbanda sendiri hanya memberi izin kegiatan dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Tapi aktivitas di pelabuhan di lahan milik pribadi tersebut sering berlangsung selama 24 jam.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here