Dirut Angkasa Pura II: E-Commerce Tingkatkan Pengiriman Barang di Bandara

0
151
ilustrasi kargo udara (industri.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Maraknya penjualan barang melalui e-commerce membuat pengiriman barang atau kargo melalui bandara meningkat. Menurut Direktur Kargo Angkasa Pura II Denny Fikri, dalam dunia internet sekarang ini sudah tidak ada batasan lagi.

“Perkembangan e-commerce, dengan pengiriman udara bagaimana, 70 persen memang masih Gojek untuk pengirimannya di Jakarta. Namun dua tahun ke depan, pembelinya bisa dari Sumatera atau Papua. Harapannya ada tindaklanjut. Kita mengoperasikan bandara bisa bersaing dengan luar negeri,” ujar Direktur Kargo Angkasa Pura II Denny Fikri, Senin (11/9)

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini bandara bukan hanya untuk orang/penumpang. Bahkan, fasilitas itu sudah bisa dikembangkan menjadi bandara pariwisata, termasuk juga kargo.

“Bandara membuka peluang buat pergudangan-pergudangan. Dan juga pengiriman biaya yang murah,” ujar Denny. Sayangnya, dibandara masih banyak yang belum konektifitas atau harmonisasi integrasi sistem. Pengguna jasa, itu tidak tahu, sudah sampai kemana barangnya,” jelasnya.

Denny menambahkan, bandara bisa jadi hub. Baik domestik maupun internasional. “Tapi perlu efisien. Infrastruktur bagaimana. Saat ini bandara berbenah,” pungkasnya. Sementara itu, Direktur Kargo Garuda Indonesia, Sigit Muhartono mengatakan, Airline yang paling bertanggungjawab untuk keamanan kargo yang dibawa.

“Kita sudah masuk e-commerce. Tujuannya satu, cepat. Itu kita ngomong udara. Tapi kita tahu airlines itu industri nomor dua setelah perbankan. Yang banyak regulasi yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Menurut Sigit, biaya gudang dan sebagainya harus distandarkan dan sederhanakan. Mata rantai logistik perlu ditelaah lebih lanjut. “Masih panjang menurut saya rantai logistiknya.Pengiriman kargo tidak hanya urusan maskapai,” pungkasnya.

Sementara itu, Tengku Burhanudin dari Inaca mengatakan standar pelayanan e-kargo memang perlu dilakukan. “Biaya kargo itu tidak terlalu mahal. Tapi yang bikin mahal, itu biaya penyewaan gudang. E-commerce penting sekali untuk dijalankan. Itu salah satu yang bisa menurunkan biaya logistik,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwader Indonesia Yuki Nugrahawan Hanafi mengatakan terkait penurunan biaya logistik memang harus bersinergi. Jangan lagi saling baku hantam.

“Memang soal harmonisasi, di rumah aja sulit. Apalagi di bandara. Namun saya optimis kalau kita duduk bersama membahas hal itu, persoalan akan bisa diselesaikan,” ujarnya kemarin.

Menurut Yuki, begitu pentingnya logistik dan menjadi perhatian pemerintah. Logistik sudah jadi bagian mata rantai pasar. “Biaya logistik kita sebenarnya 23,5 persen sebenarnya ada penurunan. Dengan adanya pembangunan infrastrutur, jalan, bandara pelabuhan dan sebagainya, pada 2019 bisa turun jadi 21 persen,” pungkasnya, seperti dilansir indopos.co.id.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY