DPW ALFI Sulselbar Nilai Pelindo Monopoli Bisnis Logistik di Pelabuhan

0
358
Pelabuhan Makassar - Jibiphoto

Makassar – (suaracargo.com)

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia atau DPW ALFI/ILFA Sulselbar menilai bisnis jasa logistik pelabuhan terkesan dimonopoli pihak PT Pelindo IV. PT Pelindo juga dianggap tidak mengikuti imbauan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi yang mendorong peranan swasta lebih dominan dalam percepatan konektivitas atau jangkauan distribusi logistik di daerah-daerah.

Ketua DPW ALFI/ILFA Sulselbar, Syaifuddin Saharudi, kebutuhan masyarakat di wilayah-wilayah Indonesia akan semakin terpenuhi, sehingga berdampak pada penekanan perbedaan harga produk pada masing-masing wilayah.

“Efek dari konektivitas yang terjaga ini akan menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Konektivitas transportasi akan memungkinkan wilayah di penjuru Indonesia dapat dijangkau,” ujarnya,

Konektivitas perhubungan memerlukan sokongan dana, jelas Syaifuddin. APBN dirasa kurang mencukupi sehingga, menurut dia, salah satu jalan yang harus ditempuh adalah memberi peluang bagi swasta untuk bermitra dengan pemerintah guna mewujudkan konektivitas transportasi.

“Peranan swasta sangat dibutuhkan saat ini, sinergitas BUMN kami anggap belum tepat. Sebab mematikan pengusaha swasta lokal, apalagi jika Pelindo mengambil alih bisnis jasa logistik,” tegasnya.

Saat ini, kata dia, telah dilakukan angkutan semen dari Makassar ke Jayapura melalui anak usaha PT. Pelindo IV melalui sinergitas PT. Semen Tonasa dan kerjasama pihak swasta PT. Samudera Indonesia sebagai pengangkutnya. Meskipun kegiatan ini dapat menekan harga semen lebih rendah 40% di Jayapura, namun ini justru mematikan bisnis logistik dan pengangkutan komoditas asal Sulsel lainnya di Pelabuhan Makassar

“Harusnya cukup perusahaan bongkar muat yang gulung tikar karena sudah tidak ada kegiatan. Pelindo jangan lagi menambah masalah dengan terjun sebagai pengusaha ekspedisi,” kata dia.

Jika Pelindo IV ikut bermain kerja ekspedisi, perusahaan plat merah itu seharusnya menjaga kualitas pelayanan mulai dari sarana dan prasarana pelabuhan demi kelancaran kegiatan pelayanan pelabuhan.

“Pelindo cukup menjadi fasilitator bukan ikut menjadi operator distribusi logistik melalui sinergitas BUMN,” keluhnya.

Dia mengakui bahwa melalui sinergitas BUMN sebagian besar volume bongkar muat saat ini diambil dan dikerjakan Pelindo melalui anak perusahaannya.

“Mengenai tarif khusus tidak etis jika dinampakkan Pelindo guna mempertahankan eksistensi Direct Call. Tidak wajar sebagai operator pelabuhan memberikan perlakuan khusus terhadap merek tertentu. Jika ada kebijakan seperti itu seharusnya berlaku untuk seluruh komoditi,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Pelindo IV Baharuddin M mengatakan, pengenaan tarif terhadap pengiriman komoditas semen yang diproduksi PT Semen Tonasa merupakan implementasi dari jalinan kerjasama antar kedua BUMN tersebut.

“Bukan tarif khusus sebenarnya, tetapi tarif negosiasi. Tarifnya itu lebih rendah sekitar 10%. Karena memang ini langsung ke Papua, waktunya lebih singkat juga,” jelasnya.

Adapun jalinan kerjasama perseroan dengan PT Semen Tonasa diklaim pula merupakan bentuk dari sinergi BUMN, yang mana kegiatan pengiriman langsung komoditas semen Makassar-Jayapura telah berjalan dengan melibatkan juga PT Samudera Indonesia.

Menurut Baharuddin, sinergitas tersebut dinilai mampu menekan harga semen hingga 40% lebih murah dari sebelumnya dan merupakan implementasi dari program pemerintah untuk menekan disparitas harga antara wilayah barat dan timur Indonesia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here