E-Commerce Menggeliat, Industri Logistik Kebagian Berkah

0
530
Ilustrasi cargo (foto:istimewa)

Jakarta – (suaracargo.com)

Industri e-commerce tumbuh subur di berbagai belahan dunia. Industri yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari ini tidak hanya mengubah gaya hidup masyarakat namun juga industri yang bergerak di sekelilingnya, termasuk industri logistik.

Di Indonesia, nilai transaksi e-commerce dalam lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan positif. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim riset Tirto.id dari Statista, nilai transaksi e-commerce (B2C) di Indonesia dalam periode 2011 hingga 2015 telah tumbuh lebih dari 500 persen, mencapai angka $3,56 miliar.

Pertumbuhan tingkat penetrasi internet masyarakat Indonesia yang diprediksi akan terus naik hingga dua kali lipat pada tahun 2020 dari posisi saat ini, yakni 30 persen. Tingginya tingkat penetrasi ini membuat prospek cerah industri e-commerce dan industri pendukungnya menjadi tampak semakin tidak terbantahkan.

Di Indonesia, e-commerce diprediksi akan menjadi salah satu industri raksasa di masa depan. Menurut riset dari Macquarie, pasar e-commerce Indonesia diperkirakan akan tumbuh hingga 80 persen (y-o-y) menjadi $7 miliar pada tahun 2016.

Sementara itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Google bekerja sama dengan perusahaan investasi asal Singapura, Temasek, Indonesia diprediksi akan memegang peranan signifikan dengan penguasaan sekitar 52 persen pasar e-commerce di Asia Tenggara, dengan nilai sebesar $46 miliar pada tahun 2025.

Hal positif tersebut kemudian berimbas pada industri-industri pendukungnya, termasuk industri logistik. Berdasarkan data yang diolah oleh tim riset Tirto dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) terkait logistik – yakni pergudangan dan jasa penunjang angkutan, Pos dan Kurir – dalam lima tahun terakhir hampir selalu menunjukkan tren positif.

Pada 2011, nilai PDB terkait logistik berada pada posisi sekitar $5 miliar dalam kurs tahun berjalan. Sempat sedikit turun pada tahun 2013, angka itu terus menanjak naik menjadi $6,77 miliar pada tahun 2015. Sebuah angka yang cukup menjanjikan.

Apa yang dialami oleh PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) mungkin dapat menjadi gambaran bagaimana dampak positif industri e-dagang pada industri logistik. Meski tidak menyebutkan angka yang spesifik, Vice President Marketing JNE Eri Palgunadi mengatakan bahwa jumlah transaksi pengiriman perusahaan tersebut selalu tumbuh konstan sejak e-dagang mulai marak di Indonesia.

“Sejak tahun 2010 di mana e-commerce mulai tumbuh di Indonesia, jumlah transaksi pengiriman JNE pun meningkat 30-40 persen setiap tahun secara konsisten hingga saat ini,” kata Eri, sembari menambahkan bahwa jumlah pengiriman paket JNE dari e-commerce dapat mencapai hingga 60-70 persen dari total pengiriman perusahaan.

Ia mengatakan, tren perkembangan teknologi tersebut kemudian membuat perusahaan yakin untuk melakukan ekspansi bisnis dalam upayanya untuk menunjang operasional perusahaan, tidak hanya di bidang IT, tetapi juga infrastruktur dan jaringan. Sebagai catatan, seperti dilaporkan oleh kantor berita Antara, dana investasi yang digunakan JNE untuk pengembangan layanan tersebut mencapai Rp455 miliar.

“Tahun ini infrastruktur baru sebagai titik layanan mau pun penunjang operasional telah dibangun di Medan, Batam, Bandung, Wangon [Jawa Tengah], Semarang dan Surabaya,” katanya kepada Tirto.id.

Pada tahun ini pula, lanjutnya, JNE menjalin kerja sama dengan Shopee. Marketplace itu bergabung dengan sejumlah nama seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Lazada yang telah lebih dahulu menjalin kerja sama dengan perusahaan ini.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here