Fasilitas Pelabuhan Baru Belum Mampu Dongkrak Industri di Gresik

0
428

Gresik – (suaracargo.com)

Dua fasilitas pelabuhan ekspor baru belum mampu mendongkrak perkembangan ekspor secara signifikan. Nilai pengiriman barang ke luar negeri hanya naik tipis. Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik mencatat, angka ekspor pada 2015 mencapai USD 1,3 miliar. Nilainya naik tipis sepanjang 2016 menjadi USD 1,4 miliar. ”Pada 2017 ini, kami lebih menggenjot ekspor. Kami bakal mendorong industri menengah untuk berkembang,’’ papar Kepala Diskoperindag Gresik Agus Budiono.

Menurut dia, saat ini ada 119 usaha yang masuk kategori menengah yang semuanya berpotensi ekspor. Sama dengan tahun sebelumnya, salah satu upaya diskoperindag ialah mengadakan pelatihan ekspor. Pelatihan tidak saja bertujuan mendorong perluasan pasar industri. Agus juga mencatat ketergantungan pengusaha akan bahan impor. ”Terutama furnitur dan rotan. Banyak yang mengambil dari luar daerah,” tambah Agus, seperti dilansir

Diskoperindag ingin industri di Gresik lebih mandiri. Pengajar Unmuh Gresik itu menambahkan, diskoperindag tengah memetakan seberapa besar potensi dan perkembangan usaha sekaligus pelaku usahanya.

Gresik punya modal besar untuk menggenjot ekspor. Selain banyaknya pelabuhan, Kota Pudak mendapat kepercayaan dari pusat. Gresik merupakan salah satu daerah di Jatim yang diberi wewenang untuk menerbitkan surat keterangan asal (SKA) Indonesia sebagai syarat ekspor.

Namun, ternyata masih banyak perusahaan di Gresik yang mengirim barang lewat Surabaya. Hampir 90 persen perusahaan yang mencatatkan namanya di papan ekspor masih memanfaatkan Pelabuhan Tanjung Perak. Kondisi tersebut, antara lain, disebabkan masih kurangnya layanan di pelabuhan umum. Pelabuhan Gresik dan Terminal Manyar Pelabuhan Gresik (TMPG) di JIIPE belum memiliki sarana peti kemas. Padahal, fasilitas tersebut penting untuk menunjang ekspor.

Pelayaran lebih banyak didominasi kegiatan perdagangan antarpulau. Yakni, pengiriman barang ke Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu, ekspor hanya mengandalkan bahan plastik. Direktur Utama PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) Putut Sri Muljanto mengakui, saat ini memang belum ada perusahaan yang ekspor melalui TMPG. Namun, Putut mengaku optimistis perkembangannya akan pesat. Dia melihat kunjungan kapal asing semakin meningkat.

’’Sarana peti kemas memang penting. Kami sudah memikirkannya,’’ katanya. Putut belum bisa memastikan kapan sarana peti kemas dibangun. Pengadaan fasilitas bakal dibarengkan dengan berkembangnya kawasan industri di JIIPE.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here