Gali Potensi Selat Malaka, Indonesia Perlu Bangun Pelabuhan Hub Internasional

0
652
Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. (Istimewa)

Jakarta – (suaracargo.com)

Indonesia harus segera membangun pelabuhan hub internasional di Batam agar dapat mengambil manfaat ekonomi besar di jalur pelayaran Selat Malaka. Selat Malaka itu sendiri merupakan wilayah yang termasuk jalur perdagangan terpenting dunia. Meski selat ini sekitar 80% masuk wilayah Indonesia, Singapura justru merupakan pihak yang paling banyak memperoleh manfaat ekonomi karena pelabuhan hub internasional. Negara berikutnya yang berhasil memanfaatkan Selat Malaka adalah Malaysia.

Dari segi ekonomi dan posisi strategis, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia seperti Terusan Suez atau Terusan Panama. Selat ini terletak di antara Semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia, dan Singapura) dan Pulau Sumatera (Indonesia). Selat yang menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik ini menjadi jalur pelayaran perdagangan negara-negara emerging market dengan pertumbuhan ekonomi cepat dan jumlah penduduk terbesar di dunia, yakni Republik Rakyat Tiongkok, India, dan Indonesia. Selain itu, jalur ini menghubungkan Korea Selatan dan Jepang yang merupakan salah satu eksportir besar dunia.

Oleh karena itu, karena Indonesia memiliki mayoritas wilayah Selat Malaka, Indonesia seharusnya memiliki pelabuhan hub internasional di jalur ini karena negara kepulauan ini memiliki barang ekspor-impor paling banyak di Asean. Jadi, nantinya ekspor barang RI tidak perlu lagi ke Singapura dulu kemudian direekspor oleh Singapura. Demikian pula impor barang kita, tidak perlu melalui pelabuhan Negara Kepala Singa itu.

Ketua Forum Transportasi Laut Masyarakat Transportasi Indonesia (FTL-MTI) Ajiph R Anwar mengatakan, Indonesia masih punya kesempatan memanfaatkan potensi ekonomi besar di Selat Malaka, dengan membangun pelabuhan hub internasional di Tanjung Sauh, Batam. “Tanjung Sauh di Batam berlokasi dekat dengan jalur pelayaran utama dunia yang tetap (main-line operator/MLO), antara lain Malaka dan Singapura. Tanjung Sauh memiliki potensi yang sama dengan Malaysia. Pelabuhan hub internasional kita jangan terlalu jauh dibangunnya dari lokasi-lokasi strategis itu,” ujarnya kepada Investor Daily, Jakarta, Kamis (24/11).

Agar pembangunan pelabuhan hub internasional yang besar bisa terealisasi, kata Ajiph, Indonesia juga harus menggandeng anchor marine enterprise, agar pelabuhan baru memiliki captive market. Saat dirinya menjabat sebagai atase perdagangan di Prancis, perusahaan di sana tertarik untuk ikut berinvestasi.

“Ide pelabuhan hub internasional di Indonesia di jalur Selat Malaka ini pernah tercetus pada 2005. Namun, kemudian tidak diteruskan karena waktu itu kita belum punya visi jauh ke depan,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, belum terlambat bagi Indonesia untuk memulai pembangunan pelabuhan hub internasional yang besar, yang bisa berkompetisi dengan Singapura. Apalagi, Malaysia juga sudah memiliki pelabuhan hub internasional yang besar.

“Sebagai negara besar, kita harus punya pelabuhan internasional yang besar sebagai hub (pengumpul). Sedangkan pelabuhan-pelabuhan lain seperti di Tanjung Priok, Tanjung Perak, ataupun pelabuhan yang akan dibangun, itu bisa menjadi pelabuhan spoke (pengumpan),” tutur Ajiph.

Pentingnya Indonesia memiliki pelabuhan hub internasional yang besar juga sejalan dengan peningkatan pembangunan industri pengolahan di Tanah Air. Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membangun kawasan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan internasional.

Pelabuhan Kuala Tanjung

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Masita menyatakan, pemanfaatan Selat Malaka sebenarnya sudah masuk dalam program Sistem Logistik Nasional. Ini dilakukan antara lain dengan membangun Pelabuhan Kuala Tanjung, yang letaknya di mulut Selat Malaka, sebelum Singapura. Pelabuhan ini sangat potensial sebagai hub internasional.

“Tapi, pembangunan Kuala Tanjung tersendat-sendat. Untuk itu, sebaiknya pemerintah mengajak investor asing untuk mengembangkan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan hub internasional dan pintu masuk Indonesia bagian barat, guna menyaingi pelabuhan Singapura (Port of Singapore) dan Pelabuhan Tanjung Pelepas, Malaysia,” kata dia.

Dia meyakini, Kuala Tanjung nantinya bisa bersaing dengan pelabuhan Singapura dan Malaysia. Ini dengan catatan semua kapal internasional hanya boleh masuk Pelabuhan Kuala Tanjung, tidak di Pelabuhan Tanjung Priok, Belawan, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak.

Integrasi Kawasan Industri

Direktur Utama PT Pelindo I Bambang Eka Cahyana mengatakan sebelumnya, progres pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung tahap I di Sumatera Utara sudah mencapai 60,17% per 18 Oktober 2016. Secara keseluruhan, pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung terbagi dalam empat tahap dengan taksiran investasi mencapai Rp 38 triliun. Ia menargetkan, proyek tahap I bisa selesai lebih cepat dan dapat beroperasi pada April 2017.

“Pekerjaan tiang pancang di laut sudah selesai. Itu memerlukan waktu lama karena tergantung cuaca juga. Saat ini, tinggal peletakan gelagar precast dan pembetonan trestle. Itu sudah tahap akhir, karena beberapa waktu lalu sudah mencapai panjang 1,7 km dari total 2,7 km,” ungkap Bambang, seperti dilansir beritasatu.com.

Ia menjelaskan, Proyek Pelabuhan Kuala Tanjung tahap I membangun pelabuhan dengan tujuan beragam atau multipurpose terminal. Ke depan, untuk menentukan operator tahap I Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelindo I siap mengadakan beauty contest.

Bambang juga mengklaim sudah banyak operator dari luar negeri yang berminat bekerja sama untuk mengoperasikan pelabuhan tersebut. Salah satu yang menunjukkan minat besar adalah operator pelabuhan asal Uni Emirat Arab, DP World.

PT Pelindo I juga menargetkan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung tahap II dimulai pada Juli 2017 dan diharapkan beroperasi pada 2019. Proyek tahap II ini ditaksir menelan dana Rp 8 triliun.

Bambang menjelaskan, pihaknya bakal menggandeng operator pelabuhan asal Belanda, Port of Rotterdam, dan membentuk perusahaan patungan (joint venture) sebagai entitas pengembang Pelabuhan Kuala Tanjung tahap II. Dalam joint venture itu, Pelindo I bakal memegang 51% saham, sedangkan Port of Rotterdam menguasai 49%.

“Kebutuhan dana pembangunan tahap II Pelabuhan Kuala Tanjung senilai Rp 8 triliun itu akan dicari dari berbagai sumber pendanaan. Badan usaha pelabuhan (BUP) itu di antaranya akan mempertimbangkan untuk menggunakan sumber internal, dana pinjaman, hingga kemungkinan melakukan initial public offering (IPO) saham salah satu anak perusahaannya,” tutur Bambang.

Menurut Bambang, Proyek Pelabuhan Kuala Tanjung tahap II bertujuan membangun industrial gateway port atau pelabuhan yang ditunjang pula dengan kawasan industri. Dengan demikian, selain untuk pelabuhan, pada tahap II disiapkan pula lahan untuk kawasan industri yang terintegrasi. Kawasan industri ini mencakup industri semen, refinery, hingga heavy industry.

“Proyek Pelabuhan Kuala Tanjung mempunyai potensi besar. Selain adanya tawaran bekerja sama untuk mengoperasikan yang tahap I, Pelindo I mendapatkan pengajuan kerja sama untuk tahap II. Ada dua perusahaan dari Qatar dan Rusia mau menjadikan Kuala Tanjung sebagai hub gas di Indonesia,” ujar Bambang.

Terkait potensi yang besar itu, lanjut Bambang, pihaknya bakal mengajukan kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian agar Kuala Tanjung dijadikan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK). Bahkan, bersama dengan Kementerian BUMN, Pelindo I tengah menginisiasi adanya perusahaan pengelola KEK di Kuala Tanjung, yang merupakan gabungan sejumlah BUMN, antara lain Pelindo I, PT Inalum yang merupakan BUMN manufacturing, hingga BUMN perkebunan PTPN. “Kalau jadi, BUMN integrated itu bakal mengelola KEK Kuala Tanjung dan KEK Sei Mangke yang memang menjadi salah satu hinterland Pelabuhan Kuala Tanjung ke depan,” papar Bambang.

Izin Pemanduan Kapal

Agar Indonesia dapat memanfaatkan potensi ekonomi Selat Malaka yang lebih besar, pemerintah juga akan mendelegasikan kewenangan memberi jasa kapal pemandu di Selat Malaka kepada PT Pelindo I. Namun demikian, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Kementerian BUMN terkait pendelegasian pemanduan di Selat Malaka oleh PT Pelindo I.

“Hal tersebut guna mendorong operator pelabuhan itu benar-benar fokus menjalankan pemanduan di salah satu selat tersibuk di dunia ini. Indonesia sudah mendapatkan hak untuk menjalankan pemanduan kapal di Selat Malaka. Namun, dalam pelaksanaannya, pemerintah berencana mendelegasikan hak pemanduan itu kepada PT Pelindo I selaku operator pelabuhan yang memang fokus di wilayah Indonesia bagian barat. Surat keputusan memang belum turun ke Pelindo I dan sedang kami bicarakan (dengan Kementerian BUMN),” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Kamis (24/11).

Secara terpisah, Presiden Indonesia Maritime Pilots Association (INAMPA) Pasoroan Herman Harianja menilai, Selat Malaka memiliki potensi keekonomian yang besar, termasuk di sektor jasa kepanduan. Di selat tersebut setiap harinya dilewati sekitar 200 kapal yang 20% di antaranya kapal very large crude carriers (VLCC).

Menurut dia, setidaknya ada potensi pendapatan sekitar Rp 1,7 triliun per tahun untuk jasa pemanduan kapal di Selat Malaka. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu memperjuangkan hak menyediakan pemanduan di Selat Malaka, khususnya yang termasuk wilayah perairan Indonesia.

Selain itu, Indonesia perlu melakukan pendekatan dengan sejumlah perusahaan pelayaran internasional yang kapalnya sering melewati Selat Malaka. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan itu mau menggunakan jasa pandu dari Indonesia.

“Sekarang ini kapal-kapal yang lewat Selat Malaka itu dari Tiongkok, Singapura, Korea, Jepang, dan negara-negara Timur Tengah. Inilah yang harus kita dekati agar mereka memilih untuk menggunakan jasa pemanduan dari Indonesia,” imbuhnya.

Euis Rita Hartati/Thresa Sandra Desfika/Harso Kurniawan/Ester Nuky/EN

editor: M. Nahar

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here