GAPMMI: Industri Makanan dan Minuman Belum Nikmati Pusat Logistik Berikat

0
303
ilustrasi jasa pengiriman barang (maritimedia.com)

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) mengakui, masih ada sejumlah hambatan untuk bisa menghasilkan produk berkualitas dengan harga yang kompetitif.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Adhi S. Lukman menyatakan, salah satu hambatan yang secara signifikan mempengaruhi harga pokok produksi (HPP) makanan dan minuman adalah urusan logistik.

Menurut Adhi, saat ini kendala logistik untuk sebagian sektor industri sudah bisa diatasi dengan keberadaan Pusat Logistik Berikat (PLB). Akan tetapi, industri makanan dan minuman sejauh ini belum bisa menikmati fasilitas PLB tersebut.

“Saya ingin mengusulkan polanya bisa seperti industri tekstil. Itu kan bagus. Seperti kapas dimasukkan ke bonded zone (kawasan berikat) kemudian dibeli oleh industri sesuai kebutuhan, dan (dengan) itu banyak yang (bisa) dihemat,” kata Adhi ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (6/1/2016).

Adhi menuturkan, keberadaan pusat logistik bisa menghemat biaya custom, biaya demorage, dan biaya bunga. Tanpa adanya fasilitas fasilitas tersebut, importasi bahan baku/penolong harus mengurus L/C selama sebulan, pengiriman sebulan, dan penyimpanan selama sebulan.

“Tiga bulan kami harus bayar bunga,” imbuh dia, seperti dilansir kompas.com.

Sementara itu jika memanfaatkan fasilitas PLB, pelaku industri tinggal membeli bahan baku/penolong milik vendor yang ada di PLB sesuai kebutuhan. Fasilitas ini diyakini Adhi dapat menghemat banyak biaya logistik.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here