Gerbang Laut Jawa Timur Sudah Terbuka Lebar

0
246

Ratusan kontainer berisi kertas satu per satu dipindahkan dari kapal MV Intan Daya 4 ke atas truk-truk khusus pengangkut kontainer berwarna hijau pada pertengahan November lalu. Pemandangan yang biasa dijumpai di pelabuhan itu menjadi pemandangn bersejarah ketika terjadi di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur.

Bersejarah karena kapal MV Intan Daya 4 milik PT Maskapai Pelayaran Pulau Laut menjadi kapal pertama yang melakukan bongkar muat di terminal yag mulai dibangun sejak tahun 2010 lalu. Kapal Intan Daya 4 datang dari Pelabuhan Perawang, Pekanbaru, Riau, membawa 156 kontainer berisi kertas dan menaikkan 134 kontainer berisi pupuk untuk dibawa ke Jakarta.

Proses bongkar muat tersebut berlangsung cepat dan efisien karena menggunakan alat pengangkut peti kemas dari ke daratan (ship to shore crane/STSC) yang canggih buatan perusahaan Finlandia. Ada tiga STSC untuk dermaga domestik dan dua STSC untuk dermaga internasional.

Pemimpin proyek bidang pengadaan peralatan Terminal Teluk Lamong, Prasetyadi, seusai acara pembelian peralatan itu pada September tahun lalu, mengatakan, Teluk Lamong akan menjadi terminal Peti Kemas tercanggih di Indonesia. Alat yang sama baru dimiliki oleh Amerika Serikat, Spanyol dan Arab Saudi. Indonesia menjadi negara keempat yang memiliki teknologi itu.

STSC buatan Filandia itu diklaim mampu bekerja dua kali lebih cepat daripada alat serupa yang sudah ada di pelabuhan. Gambarannya, jika alat yang lama hanya mampu memindahkan 25 – 35 kontainer per jam, alat yang baru ini mampu memindahkan hingga 40 kontainer per jam.

“Proses bongkar muat satu kapal bisa selesai 10 jam” kata Direktur Komersial PT Maskapai Pelayaran Pulau Laut, Hamdan Yasin, pada hari Rabu (12/11), sebagaimana dilansir Harian Kompas, Senin 1 Desember 2014. Biasanya, kapa di perusahaan itu bersandar di Pelabuhan PT Terminal Peti Kemas Surbaya dan seluruh proses bongkar muat membutuhkan waktu 24 jam.

Selain STSC, ada pula peralatan lain dari Finlandia, seperti alat penyusun peti kemas otomatis (automated stacking crane/ASC), trailer pengangkut peti kemas (combined terminal trailer/CTT) dan pemindah peti kemas (straddle carrier/SC). Sebagian alat di Teriminal Teluk Lamong bertenaga listrik, kecuali SC dan CTT yang menggunakan mesin diesel standar emisi Euro 4.

Dengan beroperasinya Terminal Teluk Lamong, upaya untuk mengurangi beban di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, upaya untuk mengurangi beban di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dapat mulai dilakukan. Pada tahap pertama pembangunan, Terminal Teluk Lambong baru bisa menampung 1.6 juta TEU untuk peti kemas dan 10,3 juta ton untuk curah kering. Namun, jika semua tahapan selesai tahun 2030, total kapasitas tampung peti kemas bisa mencapai 5,5 juta TECU dan curah kering 2o juta ton.

Berdasarkan data PT Pelindo III, hingga triwulan III (Januari – September 2014) arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak sudah mencapai 2,3 juta TEU atau setara hampir 2 juta peti kemas. Pada triwulan III tahun 2013, arus peti kemas sebanyak 2,2 juta TEU atau setara 1,8 juta peti kemas. Padahal kapasitas tampung peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak hanya 2,1 juta TEU.

Angkutan Orang

Sebelumnya, pada awal September 2014, sejarah juga terukir dengan beroperasinya Terminal Gapura Surya Nusantara atau terminal penumpang kapal paling modern di Indonesia yang terletak di Pelabuhan Tanjung Perak. Terminal berlantai tiga dan dibangun dengan biaya Rp. 160 milyar itu mampu menampung sekitar 4.000 penumpang.

Kelebihan dari terminal itu adalah adanya dua garbarata yang menghubungkan terminal dengan kapal. Selain itu, terminal penumpang tersebut juga menggunakan sistem pelaporan (check in). Setiap barang bawaan pun dipindai menggunakan sinar-X. Lalu, barang bawaan yagn besar itu dimasukkan ke dalam bagasi saat melapor di loket pelaporan. Penumpang kapal laut kini bisa merasakan pengalaman yang sama seperti saat menumpang pesawat terbang.

“Sudah saatnya penumpang kapal laut merasakan pelayanan yang lebih nyaman dan aman” kata Direktur Utama PT Pelindo III, Djarwo Surjanto.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pemilik Kapal Indonesia (INSA) Surabaya, Steven Handry Lesawengen, langkah progresif pembangunan infrastruktur laut ini akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Jatim. Jika Jatim diibaratkan rumah dan laut adalah jalan raya, maka pintu gerbang Jatim sudah terbuka lebar. Lebih banyak kapal bisa keluar dan masuk.

Namun, Steven juga mengingatkan bahwa konsep tol laut seperti yang sedang diupayakan pemerintah dapat berjalan bagus jika industri di setiap wilayah meningkat “Apa gunanya Jatim punya infrastruktur bagus tapi industri seperti di wilayah timur belum maju. Kapal dari ke Jawa bakal tetap kosong tanpa muatan seperti yang selama ini terjadi”, katanya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY