GINSI Desak Solusi Kemacetan Penghambat Akses Logistik Pelabuhan Tanjung Priok

0
90
ilustrasi penanganan peti kemas

Jakarta – (suaracargo.com)

Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mendesak adanya solusi atas kemacetan yang menghambat akses logistik dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok termasuk di New Priok Container Terminal-One (NPCT-1).

Ketua BPD GINSI DKI Jakarta, Subandi mengemukakan, kondisi kemacetan akses logistik Priok itu telah menyebabkan kerugian bagi importir lantaran barang/peti kemas terlambat tiba di gudang importir atau pabrik.

Kondisi ini, selain mengganggu kelangsungan kegiatan produksi terhadap kargo impor yang berupa bahan baku, juga membuat proses distribusi kargo konsumsi menjadi lama sampai ke konsumen.

“Dari sisi cost tentu importasi menjadi bengkak biayanya akibat kemacetan itu.Akibatnya cost produksi pabrik juga bertambah.Harus ada solusi dari pemerintah agar barang kita bisa berdaya saing,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini Sabtu (26/5/2018).

Subandi mengatakan, akses keluar masuk pengangkutan peti kemas ke NPCT-1 sejak sebelum bulan Ramadhan hingga saat ini juga semakin krodit dan tidak ada perbaikan.

“Importir dirugikan selain ongkos angkutanya jadi besar karena minta tambahan ongkos angkut juga biaya storagenya di terminal yang makin lama semakin mencekik,” paparnya.

GINSI mengharapkan instansi berwenang dan Otoritas Pelabuhan Priok maupun PT.Pelindo II selaku pengelola terminal peti kemas di pelabuhan Priok harus bertanggung jawab mengatasi hal ini.

“Jika tidak bisa mengatasi hal seperti ini maka NPCT-1 tidak layak disebut terminal berkelas international,” tuturnya.

Subandi mengatakan, upaya menurunkan biaya logistik jangan hanya retorika dan tidak punya langkah strategis untuk mencapainya, sebab selama ini pemilik barang / importir yang menanggung beban biaya tinggi itu.

Importir, imbuhnya, selama ini hanya dapat janji yang gak ada realisasinya dalam program penurunan cost logistik di pelabuhan Tanjung Priok itu.

“Bila perlu Presiden kalau mau datang ke Priok ataupun NPCT-1 dengan cara inspeksi mendadak saja supaya melihat jelas kondisi asli keseharian di kawasan tersebut,”ujar dia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here