Go-Box Siap Penuhi Order Logistik On Demand

0
261
Go-Box Booth di Indonesia Transport Supply Chain and Logistic (ITSCL) yang diselenggarakan di JiExpo Kemayoran (Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza)
Go-Box Booth di Indonesia Transport Supply Chain and Logistic (ITSCL) yang diselenggarakan di JiExpo Kemayoran (Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza)

Jakarta – (suaracargo.com)

Maraknya model bisnis ojek atau moda transportasi berbasis online tampaknya membuat Nadiem Makarim, CEO Go-Jek, harus membuat deferensiasi layanan.

Go-Jek sendiri meluncurkan sejumlah fitur baru yang masih dalam versi beta. Salah satu yang menarik adalah Go-Box. ”Pengembangan model bisnis Go-Jek ke ranah logistik dengan Go-Box merunut dari hasil pantauan kami bahwa kurir di Go-Jek sangat diminati,” ujar Nadiem. Kendati demikian, Nadiem berujar, bentuk barang yang diantar bervariasi. Sebagian barang ada yang berukuran besar, sehingga kurang layak dikirim menggunakan sepeda motor.

Selain itu, dia melihat inefisiensi yang terjadi di bisnis ojek sama dengan ranah logistik. Karena itu, model bisnis Go-Box yang diterapkan tidak berbeda jauh dengan model bisnis Go-Jek. “Ordernya tetap lewat aplikasi Go-Jek, armadanya pun bukan armada kami, melainkan berasal dari para pemilik mobil untuk mengangkut logistik yang terdiri dari mobil pick-up, mobil boks, serta truk engkel,” tandas Raditya Wibowo, Head of Go-Box.

Nadiem mengungkapkan bahwa layanan Go-Box akan menjawab user experience baru saat ini yang serbacepat. “Konsumen saat ini maunya sekarang. Bukan next day. Atau jika same day, kalau bisa dalam waktu satu jam atau beberapa jam barang yang dikirimkan dapat diterima. Hal tersebut disebut dengan on-demand economy,” ungkap Nadiem. Fitur ini disebut Nadiem dapat menangkal bisnis logistik yang seringkali sepi order.

Apalagi biasanya bisnis logistik lebih kepada menunggu order atau akuisisi konsumen yang memberikan deal atau revenue besar. “Padahal kebutuhan logistik paling besar dan ramai itu yang sifatnya ondemand economy yang asalnya dari kalangan SMB (small and medium business) dan perorangan, bukan dari perusahaan besar. Justru menurut pemantauan saya perusahaan besar hanya memiliki 5%-10% saja dalam market share pengguna layanan logistik,” tandas Nadiem, seperti dilansir koran-sindo.com.

Diluncurkan dalam versi beta di Juni silam, saat ini Go-Box sudah bermitra dengan lebih dari 3.500 driver di empat kota yakni, Jakarta , Bandung, Surabaya, dan Bali, lebih dari 2.500 freelince driver, serta mitra 85 mitra vendor logistik. Raditya Wibowo meyebut bahwa layanan Go-Box memberikan harga yang sedikit lebih murah ketimbang jasa logistik lainnya dan lebih fleksibel.

Harga yang dikenakan pun berdasarkan jarak, bukan tonase muatan, selama tonasenya tidak memenuhi batas tonase dari kendaraan maupun yang ditentukan. “Komisi yang diambil tidak berbeda dengan Go-Jek yakni kisaran 20%-25%. Saat ini sistem pembayaran tidak jauh berbeda dengan Go-Jek. Hanya saja akan ada tambahan biaya seperti asuransi dan insentif untuk driver,” jawab Dito.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY