Hadapi MEA, Asperindo Buka Training Center

0
440
Ilustrasi Logistik Foto: Ilustrasi/Istimewa

Bogor – (suaracargo.com)

Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik mengupayakan peningkatan sumber daya manusia di era Masyarakat Ekonomi Asean dengan cara mengadakan Asperindo Training Center.

Muhammad Kadrial, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengirimn Ekspres Pos dan Logistik (Asperindo) menyatakan, pihaknya akan mengutamakan peningkatan sumber daya manusia melalui sejumlah pelatihan untuk standarisasi pelayanan.

“Saat ini, kami sudah memiliki Asperindo Training Center untuk kami dorong mengarahkan sumber daya manusia menjadi semakin baik dan berkualitas,” kata Kadrial, Selasa (22/3/2016).

Sebelumnya, peluang yang sama juga dilakukan oleh asosiasi pelaku usaha logistik lainnya. Sebut saja Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia dengan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia, Asosiasi Depo Kontainer Indonesia, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara yang melakukan kerjasama sertifikasi profesi logistik menyusul pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung.

Theo Kumaat, Course Director dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Institute ini mengatakan sertifikasi sumber daya manusia di tingkat operator teknis sangat penting pada era Masyarakat Ekonomi Asean. Oleh sebab itu dibentuklah lembaga sertifikasi profesi (LSP) Logistik Insan Prima (LIP) dengan jaminan sertifikasi international dari The International Federation of Freight Forwarders Associationsa atau FIATA.

Sertifikasi SDM ini juga memperoleh sertifikasi dari FIATA dan ini memang karena FIATA adalah asosiasi yang mewadahi freight forwarders, sehingga nanti tenaga kerja kita dengan sertifikasi internasional punya peluang besar bekerja di perusahaan nasional atau luar negeri, ujar Theo kepada Bisnis, Selasa (15/3/2016) pekan lalu.

Theo menyebut, pengakuan atas kemampuan SDM logistik Indonesia mengambil model kurikulum dari Australia. Hal tersebut disebabkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) mengadopsi dari standar Australia. SKKNI ini juga akan diberlakukan bagi tenaga kerja asing yang hendak masuk ke industri di Indonesia.

“Mereka juga harus mengikuti persyaratan kita supaya lebih selektif,” sambung Theo.

Direktur Eksekutif Asosisasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki) M. Lutfi mengatakan, depo kontainer di Indonesia saat ini memang belum memiliki sertifikasi SDM. Lutfi berharap agar kegiatan ini mampu membantu setiap operator depo meningkatkan mutu dan kinerja depo kontainer dalam negeri.

Jadi ini semua elemen tenaga kerja ada sertifikasi, kalau depo misalnya ada operator handling, dia juga seharusnya ada standarisasinya tetapi selama ini operatornya tak berstandar hanya bisa berdasarkan kebiasaan saja, itu yang Asdeki mau perbaiki, jelas Lutfi.

Lutfi pun menyambut positif kerjasama ALFI dengan Asdeki dan juga Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) dalam melakukan sertifikasi SDM ini. Kerjasama ini juga akan lebih efisien karena mengajak setiap unsur melakukan sertifikasi bersama-sama ketimbang setiap perusahaan mengajukan sertifkasi sendiri.

Bupati Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, OK Arya Zulkarnain mengatakan lembaga sertifikasi profesi akan membantu warga Batubara memperoleh pekerjaan di sektor industri. Saat ini, Pemda Batubara akan memprioritaskan para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengikuti sertifikasi profesi di LSP Logistik Insan Prima.

OK Arya mengakui kerjasama yang dilakukan dengan LSP Logistik Insan Prima tak lepas dari kebutuhan mempersiapkan anak muda Batubara menghadapi perdagangan inernasional melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, yang berlokasi di Kabupaten Batubara.

Kami ingin mereka diberikan pendidikan kembali, diuji, dan memperoleh sertifikasi supaya mereka dengan adanya Pelabuhan Internasional di Kabupaten Batubara, yaknin Pelabuhan Kuala Tanjung, anak-anak kami bisa bekerja disana, tutur OK Arya.

Edy Putra Irawadi, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengapresiasi Logistik Insan Prima yang sudah melakukan sertifikasi pekerja logistik khususnya untuk okupasi freight forwarder. Adapun total sertifikasi yang sudah dilakukan sekitar 34,6% atau 690 dari 1993 okupansi.

“Hal ini luar biasa sudah 34,6% dilakukan, kalau ditambah kerjasama baru dengan Batang ini. Saya apresiasi inisiatif meningkatkan kapasitas SDM logistik dan menjadi prestasi,” tutur Edy, seperti dilansir bisnis.com.

LSP Logistik Insan Prima didirikan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pada November tahun lalu. Pendirian lembaga sertifikasi profesi sektor logistik ini sangat dibutuhkan mengingat semua kegiatan industri memiliki tugas distribusi dan logistik.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here