Hindari Stagnasi Pelayanan, Pelaku Usaha TPS Minta Otoritas PElabuhan Konsisten Kawal Batas YOR

0
338
Ilustrasi kegiatan pengangkutan peti kemas di pelabuhan (foto ilustrasi: Istimewa / koran-sindo.com)
Ilustrasi kegiatan pengangkutan peti kemas di pelabuhan (foto ilustrasi: Istimewa / koran-sindo.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pelaku usaha tempat penimbunan sementara (TPS) mendesak kantor Otoritas Pelabuhan di Tanjung Priok konsisten mengawal batasan yard ocupancy ratio (YOR) di terminal peti kemas ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, untuk menghindari stagnasi layanan kepelabuhanan.

Pengurus Asosiasi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Indonesia (Aptesindo) Jojo Subagja mengatakan, sesuai dengan aturan Kementerian Perhubungan, tingkat kepadatan di lini 1 atau terminal peti kemas maksimal 65%. Peti kemas impor yang sudah melewati masa penumpukan tujuh hari mesti direlokasi ke TPS. “TPS itukan merupakan buffer terminal peti kemas lini satu, sehingga kegiatan relokasi akan sangat membantu menghindari kepadatan di pelabuhan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (16/2/2015).

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur PT Wira-operator TPS di Pelabuhan Tanjung Priok itu mengharapkan, seluruh pemangku kepentingan menaati peraturan soal relokasi peti kemas impor. Kepatuhan itu dibutuhkan agar kelancaran lalu lintas barang melalui pelabuhan bisa terjamin. Jojo juga mengatakan layanan di TPS sudah online dengan sistem IT yang diterapkan di seluruh terminal peti kemas Pelabuhan Priok. Relokasi peti kemas juga sudah single billing dengan terminal peti kemas yang melayani ekspor impor.

Saat ini, di Pelabuhan Priok terdapat lima fasilitas terminal peti kemas yang melayani kegiatan bongkar muat peti kemas ekspor impor yaitu Jakarta international container terminal (JICT),TPK Koja, Multi Terminal Indonesia (MTI), Mustika Alam Lestari (MAL) dan Terminal 3 yang di kelola PT Pelabuhan Tanjung Priok.

Dia mengatakan kegiatan relokasi peti kemas impor di Priok sudah di atur melalui KM Menhub No. 807/2014, yang menegaskan batasan tingkat penggunaan lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) di seluruh terminal peti kemas ekspor impor pelabuhan Priok tidak melebihi dari batas standar utilisasi fasilitas yang telah di tetapkan sebesar 65%.

Adapun batas waktu penumpukan barang paling lama tujuh hari sejak barang di tumpuk di lapangan penumpukan di dalam pelabuhan, dan terhadap barang yang melewati batas waktu penumpukan (long stay) agar dipindahkan ke TPS yang menjadi buffer atau penyangga terminal peti kemas. “Aturan Kemenhub itu sudah sangat bagus, hanya saja implementasinya dilapangan kurang maksimal,” paparnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here