INDONESIA POROS MARITIM DUNIA

0
463

Beberapa hari yang lalu, saya membacanya berita di situs media online bahwa sebuah kapal cargo bermuatan semen sebesar 2.300 metrik ton. Hendak berlayar menuju kepulauan  Nias di sebelah barat Pulau Sumatera.  Kapal rencananya sandar untuk bongkar muatan di pelabuhan Nias.

Entah bagaimana ceritanya, dikabarkan bahwa petugas Keamanan Laut (Kamla) dari TNI Angkutan Laut mengejar kapal tersebut. Mereka memberhentikan kapal ditengah laut, memaksa naik, memeriksa dokumen dan muatan kapal. Mereka pun menahannya hingga lebih kurang 22 jam.

Kapal berbendera Indonesia itu berangkat dari Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat. Padahal, sebelumnya pihak pihak syah bandar dan otoritas pelabuhan sudah memberikan surat persetujuan untuk berlayar. Itulah berita yang dirilis tanggal 11 Januari2014.

Kasus serupa berulang esok harinya. Kapal berbendera Hong Kong berangkat dari pelabuhan yang sama Pelabuhan Teluk Bayur menuju China. Kapal bermuatan 32.000 metrik ton bijih besi. Meski dokumen keberangkatan sudah lengkap, petugas Kamla TNI AL bersikeras untuk memeriksa kapal. Akibatnya pemberangkatan kapal tertunda sekitar 15 jam.

Yang jadi pertanyaan besar kita adalah, apa yang terjadi di atas kapal-kapal tersebut ? Sampai hari ini, tanya itu tak terjawab. Dan kita tentu hanya bisa menduga-duga.

Sebagai pelaku bisnis cargo, saya bertanya dan sekaligus gemas akan kejadian kejadian seperti itu. Kejadian yang sama bukan hanya di industri jasa cargo via laut. Melainkan pula hampir di semua sektor transportasi, baik darat mapun udara. Tentunya dengan modus yang berbeda.

Kami tidak menutup mata. Pasti ada pelaku usaha nakal yang memanfaatkan kelemahan aturan dan penegakan hukum di Indonesia. Namun saya meyakini bahwa pelaku bisnis yang baik tentu lebih banyak.

Pengusaha yang baik tentu saja gemas. Tangannya seolah gatal untuk membuat perubahan, Mereka selalu bertanya tanya, kapan negeri ini bisa berubah menjadi lebih baik? Mereka juga gemes, tangannya gatal untuk melakukan perubahan.

Kasus ini tentu saja menjadi potret buruk koordinasi antarinstansi di pelabuhan-pelabuhan kita. Pemicunya mungkin saja karena banyaknya instansi yang merasa punya hak dan bertanggung jawab untuk ikut mengurus pelabuhan di Indonesia.

Marilah kita amati bersama. Aparat dari dinas Imigrasi, pihak Bea Cukai, Badan Karantina, kepolisian, otorita pelabuhan, syahbandar, otoritas kesehatan dan bahkan TNI AL. Mereka semua merasa paling bertanggungjawab mengatur perairan Indonesia.

Apakah mereka menyadari, berapa kerugian pelaku bisnis transportasi akibat delai kapal ? Sesuatu yang seharusnya bisa dihemat, ternyata menjadi sebaliknya. Waktu terbuang karena akibat pemeriksaan yang semena mena tentu saja memperbesar kerugian penyedia jasa. Belum lagi kerugian terbesar bangsa ini, yaitu beredarnya berita negatif tentang negeri tidak efisien dalam arus barang logistik. Semua asyik main sendiri-sendiri. Kerugian ekonomi yang muncul akibat perilaku buruk itu tentu saja menjadi beban seluruh rakyat Indonesia.

Mengurus perairan Indonesia esensinya adalah mengurus pelabuhan, transportasi, birokrasi dan logistiknya. Jika mengurus birokrasi pelabuhan saja sudah ambu-radul, bisa dipastikab bahwa mengurus laut pun kacau balau.
Optimalkan Potensi

Indonesia adalah negara kelautan yang ditaburi oleh sekitar 17.504 pulau. Lokasi kita juga sungguh sangat strategis. Terletak diantara dua benua dan dua samudra.

Saat ini, hampir 70% kegiatan perdagangan dunia terjadi di kawasan Asia-Pasifik. Dari seluruh kegiatan perdagangan di kawasan tersebut, 75 persennya dikirimkan melalui transportasi laut.

Satu hal yang mungkiin saja kita belum banyak tahu. Bahwa kapal-kapal yang mengangkut barang barang yang diperdagangkan di kawasan Asia-Pasifik tersebut melintasi tiga selat kita, yakni Selat Lombok, Selat Makassar, dan Selat Malaka.

Mantan Menteri Perikanan Rokhmin Dahuri memperkirakan nilai barang yang melintasi kawasan kita mencapai USD 1.500 triliun per tahun. Ini kira-kira setara dengan Rp 17.250 biliun, atau hampir 10.000 kali lipat dari APBN kita untuk tahun 2014. Dengan nilai transaksi yang sebesar itu, kenapa kita belum mampu mengambil manfaatnya secara ekonomis ? Indonesia sebetulnya sangat potensial untuk menjadi pusat atau jantung perdagangan di kawasan Asia- Pasifik.

Saya percaya ini akan menjadi perhatian serius presiden terpilih, sebagaimana janji janjinya dalam kampanye. Apakah Tol Laut adalah solusi negeri ini untuk maju ?

Dalam sejarah, Indonesia adalah negeri maritim hebat yang dikagumi banyak negeri.  Kapan kita  bangkit ?

Mari bersama sama kita wujudkan “Indonesia Poros Maritim Dunia”

Lambang Saribuana
Twitter : @lambangsarib

Founder Suara Cargo

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here