IORA Berkomitmen Atasi Kendala Perdagangan di Negara-negara Anggota

0
390
Ilustrasi pelabuhan peti kemas (krjogja.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Lewat komitmen Jakarta Concord di antara negara-negara Indian Ocean Rim Association (IORA), sejumlah kendala untuk meningkatkan perdagangan di beberapa negara tujuan ekspor baru diyakini bisa teratasi. Kemampuan Indonesia yang memadai di bidang kemaritiman pun bakal memudahkan Indonesia melakukan penetrasi pasar baru tujuan ekspor sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito.

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim, Kemenko Maritim Arif Havas Oegroseno menuturkan, pada 9 -10 Mei 2017 nanti, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah konfrensi ekonomi biru (blue economy). Hal ini tak terlepas dari kemampuan lebih Indonesia di bidang kemaritiman yang diakui di kawasan IORA.

“Nah ini semua akan meningkatkan penetrasi Indonesia di negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Profil Indonesia di kawasan Afrika akan semakin meningkat. Sehingga kita bisa menggunakan ini untuk penetrasi perdagangan Indonesia di Afrika yang masih ketinggalan dengan negara lain,” kata Havas di Jakarta, Rabu (8/3).

Dia menuturkan proyeksi pengaruh Indonesia di kawasan Samudra Hindia ini bakal dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi kepentingan Indonesia di bidang perdagangan.

“Kita juga akan mengusulkan suatu jaringan pelabuhan di kawasan Samudra Hindia, nanti kita akan ada pelabuhan di sana, nanti pelabuhan baru di Kuala Tanjung, ada pelabuhan di Padang, yang bisa bisa saling terhubung, sehingga nanti bisa punya mekanisme akses langsung ke pelabuhan-pelabuhan di Afrika,” lanjutnya, seperti dilansir bisnis.com dari Antara.

Selain jaringan penghubung pelabuhan di Samudra Hindia, Indonesia juga akan membuat kerjasama di bidang bea cukai di seluruh kawasan Samudra Hindia. Sinergitas antar lembaga negara menurutnya juga akan dilakukan untuk menyukesekan tujuan tersebut. “Kementerian Perdagangan menjadi bagian dari kita juga, akan bersinergi denngan Kemenkomaritim untuk menentukan produk apa kita bisa ekspor ke negara IORA. Kemendag melakukan pemetaan produk dan negara mana saja, kemudian Kemenko Maritim untuk jalurnya. Kita juga bersinergi dengan BKPM, karena kita juga ingin melakukan investasi,” ucap Havas.

Pembicaraan bilateral antar negara anggota IORA saat ini sejatinya sudah dimulai oleh pemerintah. Perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement bahkan menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kesempatan berbeda, mengatakan bahwa Indonesia berupaya hal itu segera diwujudkan. Menurutnya, ada berbagai alasan Indonesia dan Sri Lanka bersepakat membahas free trade agreement. Salah satunya bisa menekan harga barang, baik yang masuk dari Indonesia maupun sebaliknya.

Enggar menuturkan, produk Indonesia ke Sri Lanka selama ini terbatas atau belum maksimal karena tarif atau bea yang tinggi. Padahal Indonesia memiliki keunggulan dalam komoditas atau barang yang masuk Sri Lanka. Beberapa produk Indonesia yang telah masuk Sri Langka adalah tembakau untuk pembuatan rokok, makanan, minuman, mobil, dan masih banyak lagi. Neraca dagang Indonesia terhadap Srilangka sendiri tercatat surplus hingga US$ 200 juta.

Dalam perdagangan internasional salah satu yang menjadi isu yang disoroti Indonesia adalah soal tarif ekspor antar negara yang begitu tinggi. “Kita itu hambatannya, adalah untuk tarif untuk ekspor kita yang masih cukup tinggi. Karena memang kita tidak ada, perjanjian perdagangan di antara kita (negara IORA). Misalnya untuk otomotif saja kita kena 20 hingga 40 persen tarifnya,” tutur Enggar.

Presiden RI, Joko Widodo, juga akan melakukan kunjungan langsung ke Afrika Selatan dan ke seluruh negara Anggota IORA untuk membicarakan hal itu. Pemerintah Indonesia sendii sudah diundang melakukan pembicaraan bilateral untuk peningkata hubugan dagang dengan Tanzania, Somalia, dan India.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih menuturkan, dalam Jakarta Concord, konsep blue economy yang bisa menjadi acuan untuk memacu Indonesia meningkatkan nilai tambah produk-produk unggulan, misalnya produk perikanan dan maritim Indonesia. Hal ini juga akan mendorong pengelolaan sumber daya alam secara efisien melalui kreativitas dan inovasi teknologi yang bakal menarik investasi masuk.

“Ketika ekonomi maritim berkembang, itu akan diikuti dengan produk-produk perikanan yang lebih baik, seperti pengalengan ikan dan meningkatan nilai tambah sumber daya ikan yang sehat. Jepang, sebagai konsumen ikan terbesar bisa kita ajak berinvestasi,” tuturnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here