IPC Gelar “Indonesia’s Maritime Logistics Panel Discussion”

0
458
ilustrasi pelabuhan di Makassar

Sebuah seminar yang berjudul “Indonesia’s Maritime Logistics Panel Discussion” digelar oleh Pelindo II (IPC) hari ini di Jakarta (10/12/2015). Lebih dari 200 peserta menghadiri diskusi yang menampilkan presentasi dari Bank Dunia, McKinsey & Company, Drewry Maritime Advisors dan IPC.

Dirut Pelindo II R.J Lino menyampaikan, acara ini merupakan kontribusi IPC untuk mendukung pembangunan kemaritiman Indonesia, khususnya dari sisi logistik. Diskusi diharapkan membantu para pemangku kebijakan dan pengambil keputusan dalam mengambil langkah tepat terkait pengembangan logistik nasional.

“Layanan logistik yang efisien adalah kunci pembangunan ekonomi suatu negara, khususnya negara kepulauan seperti Indonesia”, ungkap Lino, seperti dilansir jurnalmaritim.com.

Materi seminar terbagi dalam empat subtema yakni The Role Of Logistic Infrastructure to Drive Indonesia’s Economy yang dipaparkan oleh Direktur utama IPC, R.J Lino. Improving Indonesia’s Freight Logistic System, yaitu hasil kajian dari Bank Dunia. Mc Kinsey & Company mengisi subtema Indonesia Maritime Strategy Reform. Yang terakhir adalah Domestic Container Main Sea Corridor yang disampaikan oleh Drewry Maritime Advisors, konsultan bisnis pelayaran asal Inggris.

Bank Dunia menyampaikan peran logistik sebagai kunci pembangunan ekonomi dalam suatu negara. Posisi Indonesia yang berada pada peringkat 53 dari 160 (survey Bank Dunia tahun 2014) mencerminkan betapa jauhnya sektor logistik Indonesia dari efisiensi.

Untuk meningkatkan kekuatan logistik kemaritiman Indonesia, Bank Dunia menyarankan beberapa langkah strategis, antara lain Menciptakan angkutan logistik yang efisien dan terintegrasi dengan supply chain (rantai pasok) dan value chain (rantai nilai) global dengan berfokus pada usaha pembentukan value (nilai tambah).

Logistik angkutan barang tersebut akan berperan sebagai penghubung antar wilayah penghasil sumber daya (sebagian besar berada di luar pulau jawa) dengan pasar serta pusat manufaktur yang saat ini banyak berada dipulau jawa dan sumatera. Bank Dunia menyarankan pusat-pusat produksi perlu didistribusikan secara lebih merata, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah produksi domestik dan mengurangi ketimpangan harga antara wilayah.

Mc Kinsey menyampaikan bahwa reformasi tidak cukup hanya dilakukan pada industri pelabuhan, namun juga pada industri pelayaran dan industri pendukung. Pada tahap awal, reformasi perlu dilakukan secara horizontal pada ketiga sektor tersebut agar hasilnya dapat dirasakan secara konkret oleh para pengguna jasa dan pemilik kargo.

Drewry mengupas konsep Tol Laut untuk pengangkutan barang domestik, termasuk opsi-opsi dan tahapan implementasinya. Program Tol laut bukan sekedar membangun pelabuhan dan menambah armada kapal, namun juga membangun sistem transportasi laut dalam jaringan transportasi laut domestik yang berjenjang dan holistik.

Sistem transportasi yang dimaksud mencakup standarisasi fasilitas dan level of service pada pelabuhan-pelabuhan hub domestik, keteraturan jadwal dan rute pelayaran, kehandalan jadwal pelayanan untuk menekan biaya inventori, penyederhanaan dan harmonisasi regulasi kemaritiman, hingga konektivitas pelabuhan dengan wilayah pendukung melalui berbagai moda transportasi.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here