IPC Kerjasama Dengan BUMN Pelabuhan Hadirkan Pelayanan Terstandarisasi

0
481
ilustrasi pelabuhan (kaltim.prokal.co)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia (5,1 persen di 2016) sangat mempengaruhi dan dipengaruhi kinerja pelabuhan sesuai prinsip ship follows the trade dan trade follows the ship. Pertumbuhan ekonomi berdampak positif pada penerimaan tambahan volume perdagangan dan barang untuk dilayani di pelabuhan.

Pertumbuhan bisnis pelabuhan secara makro minimal sama dengan pertumbuhan ekonomi walaupun pertumbuhan bisnis setiap pelabuhan berbeda-beda tergantung faktor daya saing, lokasi, tarif, dan lain-lain. IPC memiliki dua kategori usaha untuk menyokong Indonesia sebagai poros maritim dan mendukung implementasi Program Tol Laut untuk meningkatkan konektivitas Indonesia dan pemerataan kesejahteraan penduduk dengan optimalisasi biaya logistik.

Usaha pertama adalah memperbaiki, meng-upgrade, dan modernisasi pelabuhan-pelabuhan existing. Usaha kedua, membangun serta mengembangkan pelabuhan-pelabuhan baru di lokasi greenfield. Termasuk dalam kedua usaha tersebut, yakni Pembangunan Terminal Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok (New Priok Container Terminal One / NPCT1) berkapasitas 1,5 juta teus pada 13 September 2016. Selain itu, pembangunan Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat dengan kapasitas hampir 1 juta teus dan pembangunan Pelabuhan Sorong di Papua Barat sebagai pelabuhan hub di Indonesia Timur.

“IPC berkoordinasi dengan Pelindo I, III, dan IV menghadirkan pelayanan terstandardisasi untuk memperlancar angkutan laut melalui pelabuhan-pelabuhan besar pada rute utama pelayaran,” ujar Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha IPC Saptono R. Irianto, sebagaimana dilansir tempo.co.

Manajemen baru Pelindo telah menyusun corporate roadmap untuk lima tahun ke depan. Pada 2016, fokus perusahaan adalah fit in infrastruktur untuk meletakkan kembali dasar-dasar bekerjanya korporasi. “Fokus di bidang komersial, yakni membenahi platform komersial yang diharapkan menjadi penggerak untuk pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkesinambungan,” kata Saptono.

Pengembangan bisnis IPC secara organik dengan melakukan usaha-usaha revenue enhancement dan cost effectiveness di semua unit bisnis. Pelayanan baru RO-RO tahun ini, yakni jalur Pelabuhan Panjang-Tanjung Priok, pengembangan pelayanan kargo curah di Pelabuhan Banten dan Teluk Bayur, serta pengembangan segmen penumpang di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Untuk menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan untuk bersaing dengan negara lain, IPC melakukan sinergi dengan Pertamina, ASDP PT Krakatau Steel Tbk, PT PLN (Persero), PT Antam Tbk, PT Inalum (Persero), PT Semen Padang (Persero), PT Waskita Karya Tbk, PT Pelindo I (Persero), PT Pelindo IV (Persero), dan PT Tenaga Listrik Bengkulu. Kerja sama juga dilakukan dengan PT Kereta Api, PT Pembangunan Perumahan, PT Djakarta Lloyd, PT Biro Klasifikasi Indonesia, PT Jasa Marga, PT Jakarta Propertindo, PT Pos, PT Len Industri, PT Bhandar Graha Reksa, PT RNI, dan Perum Bulog.

Terkait dengan masukan pengusaha yang mengeluhkan belum terintegrasinya sistem online antar-instansi, IPC mendukung integrasi sistem informasi dan transaksi online dengan instansi-instansi terkait lain, seperti Inaportnet, Indonesia National Single Window (INSW), Integrated Billing System, dan Port Community System (PCS).

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here