Jasa Kurir On Demand Kini Hadir di Borneo

0
164

Jakarta – (suaracargo.com)

Jasa kurir on demand di Indonesia kini berkembang amat pesat. Perkembangan tersebut disokong oleh canggihnya teknologi digital plus e-commerce yang semakin laris. Kurir on demand bisa didefinisikan sebagai jasa pengiriman instan yang dapat dipesan kapan saja dan dikirim saat itu juga. Tarif pengiriman bergantung pada jarak, berbeda dengan jasa kurir konvensional yang mendasarkan tarifnya pada berat.

Di Indonesia, bisnis antar mengantar barang kategori ini sudah cukup banyak. Bisnis tersebut terutama didominasi oleh perusahaan penyedia jasa transportasi bermodal kuat seperti Gojek dan Grab. Sayangnya penetrasi pasarnya masih dangkal. Baru sebatas di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Makassar.

Namun, nun jauh di pelosok Pulau Kalimantan, tepatnya di Sangatta Kabupaten Kutai Timur, ada sebuah jasa kurir yang menawarkan layanan instan mirip seperti kurir on demand macam Go-Send atau GrabEkspress. Namanya Jakuza alias Jasa Kurir Sangatta.

Founder Jakuza Eko Sulistianto kepada Bisnis menceritakan awal mula dia mendapatkan ide mendirikan usaha jasa kurir on demand. Usaha ini berdiri pada Agustus 2015. Uniknya, di tahun itu pulalah awal mula nama Gojek-yang dianggap sebagai pelopor kurir on demand di Indonesia-mulai naik daun.

Namun, Eko menerangkan bahwa berdirinya Jakuza sama sekali tak terinspirasi dari Gojek. Masuk akal, sebab di awal berdirinya Gojek mendeklarasikan diri sebagai apikasi penyedia jasa transportasi. Go-Send sendiri justru hadir belakangan. Sedangkan Jakuza telah sejak awal memang mendefinisikan diri sebagai jasa kurir instan.

Jakuza berawal dari kejelian Eko melihat peluang bisnis. Sangatta adalah kota yang mayoritas penduduknya bekerja di tambang batubara. Dengan kata lain penduduknya disibukkan oleh rutinitas pekerjaan. Di sisi lain, bisnis jual beli online juga semakin marak kala itu. Eko lantas berpikir bahwa perlu ada jasa yang mengantarkan barang dari penjual online tersebut dan pembelinya.

Bisnis logistik sebenarnya bukan hal baru bagi Eko. Dia pernah bekerja di bagian logistik sebuah perusahaan milik grup Astra. Selain itu dia pernah mendirikan usaha transportasi berbasis truk. Pelanggannya adalah perusahaan-perusahaan tambang di sekitar Sangatta. Namun usaha tersebut mandek lantaran jatuhnya harga komoditas batubara.

Awalnya banyak yang sangsi dengan idenya. Usaha ini dicibir dan disebut tak akan berhasil karena Sangatta adalah kota kecil dan orang-orang tak butuh jasa seperti itu. Namun dia tetap optimistis. Eko juga mengakui bahwa promosi bisnisnya banyak terbantu dengan booming Gojek di Jakarta.

“Banyak yang telepon dan bertanya,’apakah ini seperti Gojek di Jakarta?’ Saya tinggal bilang mirip seperti Gojek. Jadi saya sangat terbantu dengan hadirnya Gojek,” ujarnya saat ditemui di Sangatta baru-baru ini.

Awal mula bisnis Jakuza pun mirip dengan Gojek yaitu menggunakan telepon sebagai sarana menerima order. Saat itu Eko belum terpikir membuat aplikasi. Namun seiring semakin dikenalnya Jakuza di Sangatta, bulan ini Jakuza resmi meluncurkan aplikasi yang diberi nama Jasa Kurir Apa Aja.

Eko bahkan berencana melakukan ekspansi bisnis ke kota lain. Tak tanggung-tanggung, targetnya adalah kota besar seperti Samarinda, Tenggarong dan Balikpapan.

Kehadiran Jakuza di Sangatta sangat membantu masyarakat terutama pebisnis online berbasis rumahan. Nur Rahma, seorang ibu rumah tangga yang punya bisnis sampingan berjualan perlengkapan bayi di Sangatta mengaku bisnisnya sangat terbantu berkat hadirnya Jakuza.

“Saya bisa berjualan sambil tetap mengurus anak. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana cara mengirim barang ke pembeli,” katanya.

Untuk tarif, Jakuza menerapkan sistem zona. Jarak 0 kilometer-10 kilometer tarifnya Rp5000. Semakin jauh semakin mahal, tetapi harga maksimal dibatasi Rp20.000. Jakuza juga melayani pengiriman barang ke kota di sekitar Sangatta seperti Bontang dan Bengalon.

USAHA BERBASIS SOSIAL

Kurir Jakuza saat ini berjumlah 21 orang termasuk Eko yang masih sering ikut ‘ngurir’. Sebagian besar anggotanya adalah eks karyawan tambang yang terkena PHK saat perusahaanya melakukan melakukan efisiensi besar-besaran akibat jauhnya harga batubara dunia. Selain itu ada juga yang berasal dari anggota klub sepeda motor.

Eko sengaja merangkul mereka karena menyadari bahwa usaha yang baik bukan sekedar mengejar untung tapi juga harus bermanfaat bagi orang lain.

“Daripada mereka cuma nongkrong tanpa menghasilkan makanya saya ajak anak-anak motor gabung,” tuturnya.

Jakuza juga kerap terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di Sangatta. Bahkan mereka punya aturan yakni ongkos kirim gratis jika barang yang diantar adalah obat untuk orang sakit.

Mereka juga tak menganggap jasa kurir lain seperti JNE atau TIKI sebagai pesaing. JNE cabang Sangatta bahkan pernah meminta tolong kepada mereka mengirim barang saat kurir JNE bermasalah.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY