Jembatan Penghubung Dua Desa Ambrol Akibat Hujan Lebat

0
418
Jembatan penghubung Desa Pare dan Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Wonogiri
Jembatan penghubung Desa Pare dan Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Wonogiri

Wonogiri – (suaracargo.com)

Akses penghubung Desa Pare dan Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Wonogiri terputus akibat kerusakan infrastruktur jembatan penghubung dua desa tersebut saat terjadi hujan lebat, Jumat (6/2/2015).

Pantauan Solopos.com di lokasi kejadian, Minggu (8/2/2015), jembatan sepanjang delapan meter itu ambrol. Timbul lubang menganga berdiameter sekitar empat meter di tengah jembatan. Selama ini, jembatan itu menjadi akses penghubung utama Desa Pare dengan Desa Keloran.

Saat kejadian, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Selogiri dan sekitarnya. Derasnya hujan mengakibatkan air sungai meluap. Tidak lama kemudian, jembatan penghubung antarwilayah itu ambrol. Beruntung tidak ada pengguna kendaraan bermotor yang melewati jembatan itu saat kejadian.

Kepala Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Sugeng, mengatakan kondisi jembatan itu memang rawan ambrol. Kerentanan itu disebabkan salah satu fondasinya sudah retak. Saat kejadian berlangsung, air sungai sedang meluap. Imbasnya, fondasi jembatan tergerus arus sungai yang mengalir deras.

“Fondasi jembatan retak di beberapa bagian. Saat kejadian hujan yang turun sangat lebat. Fondasi jembatan tidak bisa menahan gerusan arus sungai,” kata dia, saat ditemui Solopos.com di lokasi kejadian, Minggu (8/2/2015).

Jembatan itu dibangun pada 2007 lalu melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Jembatan itu berada di perbatasan antara Desa Pare dengan Desa Keloran. Setiap hari, jembatan itu digunakan warga kedua desa tersebut sebagai akses penghubung utama.

Kini, warga setempat terpaksa menggunakan jalan memutar sejauh 1,5 kilometer (km) hingga 2 km setelah jembatan itu ambrol. “Tidak ada warga yang terisolasi lantaran masih ada jembatan lainnya. Namun mereka harus mengambil jalan memutar yang membutuhkan waktu lebih lama,” ujar Sugeng.

Sebenarnya, lanjut Sugeng, ada jembatan cadangan dari bambu dan kayu. Jembatan itu terletak hanya beberapa meter dari jembatan utama. Namun, jembatan cadangan itu turut terkena terjangan arus sungai. Bambu dan kayu bagian dari jembatan itu ikut hanyut terbawa arus air.

Seorang warga RT 002/RW 006 Dusun Susukan, Desa Pare, Mariman, mengatakan tanda-tanda ambrolnya jembatan terdeteksi beberapa bulan lalu. Selain retak, fondasi jembatan sudah agak miring. Warga sudah khawatir apabila arus sungai cukup deras, fondasi jembatan itu bakal ambrol. Ternyata kekhawatiran warga menjadi kenyataan pada hari Jumat (6/2/2015) lalu.

Dia meminta instansi terkait segera memperbaiki jembatan itu. “Kalau bisa perbaikan jembatan dilakukan secepatnya sehingga warga tidak perlu memutar terlalu jauh untuk sampai ke seberang sungai. Warga juga siap membantu dan bekerja bakti,” kata terkait kerusakan infrastruktur jembatan di Selogiri.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here