JICT: Perizinan Satu Pintu Untuk Atasi Kelambatan Dwelling Time di Pelabuhan

0
356
ilustrasi penumpukan peti kemas (okezone.com)
ilustrasi penumpukan peti kemas (okezone.com)

Hong Kong  –  (suaracargo.com)

Pengelola terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menilai persoalan proses bongkar muat hingga keluar pelabuhan, atau dwelling time untuk barang impor sudah berlangsung lama. Hal ini diamini oleh operator terminal peti kemas Tanjung Priok, yakni PT Jakarta International Container Terminal (JICT).

Menurut JICT, persoalan mengerucut pada proses perizinan atau administrasi di pre customs clearance, dan customs. Di sini terdapat belasan institusi pemerintah yang terlibat, khususnya pada saat pre customs.

Kondisi ini diperparah dengan standar pelayanan yang berbeda dan koordinasi yang berjalan sendiri-sendiri.

“Masalah mungkin masing-masing departemen belum paham,” kata Presiden Direktur JICT, Riza Erivan, di Hotel JW Marriot, Hong Kong, Selasa Malam (24/6/2015).

Riza menyebut, operator pelabuhan sama sekali tidak terkait pada proses yang memperlama arus keluar masuk pelabuhan. Para operator justru ingin proses pergerakan barang berjalan dengan cepat agar terminal tidak dipenuhi oleh kontainer.

“Dwelling time bukan kita operator. Kalau operator, kita ingin kargo cepat keluar. Jadi masalah ada di badan pemerintah seperti Kemendag, Bea Cukai, Kementan, BPOM dan lain-lain. Itu lama,” sebutnya, seperti dilansir detik.com.

Melihat kondisi tersebut, operator pelabuhan meminta pemerintah agar proses perizinan berada di bawah satu payung, layaknya pengurusan izin satu pintu. Perizinan ini harus dikordinasi oleh insitusi seperti Otoritas Pelabuhan, Kementerian Perhubungan.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here