Jika Ada Pelabuhan Besar di Jawa Barat, Pengusaha Ekspor Bisa Hemat Biaya Pengiriman Barang

0
239
KERAJINAN rotan di sebuah bengkel produksi Kabupaten Cirebon siap dikirim untuk ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok beberapa waktu lalu.* (HANDRI HANDRIANSYAH/"PRLM")
KERAJINAN rotan di sebuah bengkel produksi Kabupaten Cirebon siap dikirim untuk ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok beberapa waktu lalu.*
(HANDRI HANDRIANSYAH/”PRLM”)

Bandung – (suaracargo.com)

Jika ada pelabuhan besar di Jawa Barat, biaya transportasi ekspor bisa dihemat hingga puluhan miliar rupiah setiap tahun. Selama ini, para pelaku industri lokal menilai pengiriman melalui pelabuhan Tanjung Priok telah memicu pemborosan waktu dan biaya. Pemborosan itu disebabkan oleh padatnya lalu lintas di jalan-jalan dari dan menuju ke pelabuhan yang terletak di sebelah utara Ibukota Jakarta tersebut.

Salah seorang pelaku ekspor furnitur kayu dan rotan asal Kota Cirebon, Frans Satrya Pekasa (39) mengakui, banjir Jakarta seringkali melumpuhkan lalu lintas barang ekspor. “Namun sebenarnya saat tidak banjir pun, pengiriman melalui Tanjung Priok sudah tak layak secara ekonomis bagi pelaku usaha,” katannya saat dihubungi Jumat (13/2/2015).

Menurut Frans, banjir termasuk kondisi bencana yang bisa dimaklumi oleh klien di negara tujuan ekspor. Dengan strategi pengaturan waktu pengangkutan dengan truk, barang tetap bisa sampai di pelabuhan sebelum jadwal keberangkatan kapal.

Frans menegaskan, para pelaku usaha sebenarnya sudah pintar dalam mengantisipasi banjir Jakarta yang terjadi setiap tahun. Oleh karena itu kerugian besar bisa dihindari sejak dini.

Meskipun demikian, dalam kondisi normal kerugian justru bisa datang tanpa bisa diprediksi. Kemacetan dan antrean di pelabuhan Tanjung Priok tak jarang terjadi tanpa bisa diantisipasi. Oleh karena itu, kata Frans, pelabuhan alternatif antara Jakarta dan Semarang jelas sangat dibutuhkan oleh pelaku industri lokal untuk menekan waktu dan biaya transportasi ekspor.

“Secara geografis, Jawa Barat seharusnya bisa membaca peluang itu. Jika punya pelabuhan besar internasional, barang ekspor dari Jawa Barat dan Jawa Tengah akan masuk ke situ ketimbang harus ngantre dan menembus kemacetan ke Tanjung Priok,” tutur Frans yang dua kali berturut-turut pernah meraih piala Presiden RI sebagai Ekportir Terbaik Kategori Pelopor Ekspor ke Negara Baru pada 2012 dan 2013.

Frans menyambut baik rencana pengembangan Pelabuhan Cirebon. Soalnya bagi industri rotan dan kerajinan ekspor lain, itu berarti penghematan waktu dan biaya truk ke pelabuhan. Dari sisi waktu, Frans menegaskan, pengangkutan ke Tanjung Priok bisa memakan satu hari penuh. Itu bisa dipangkas habis jika bisa dikirim melalui Pelabuhan Cirebon.

Sementara itu dari segi biaya, ongkos truk untuk menarik satu kontainer dari Cirebon ke Tanjung Priok saat ini mencapai Rp 2,5-3 juta. Dengan rata-rata ekspor 1.200 kontainer per bulan, pelaku industri rotan Cirebon saja bisa menghemat biaya transportasi sampai Rp 3,6 miliar per bulan atau Rp 43,2 miliar per tahun. Belum lagi penghematan yang dialami pelaku industri lain di Jawa Barat.

Hal itu diakui juga oleh Samari (41), perajin gazebo bambu asal Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Pesanan dari beberapa negara seperti Italia, Yunani, Jerman dan Uzbekistan membuat Samari tak bisa lepas dari jasa pelabuhan dan truk kontainer. Pengiriman melalui Tanjung Priok, diakui Samari, sangat mahal biayanya. Dalam kondisi tertentu, seperti saat banjir melanda Jakarta, biaya truk bisa berlipat ganda dari tarif normal. ” Tahun lalu saya bahkan pernah harus mengeluarkan biaya pengiriman sampai Rp 12 juta per kontainer,” katanya.

Sejak lama, ia mendambakan terwujudnya Pelabuhan Cirebon yang bisa melayani pengiriman ekspor seperti Tanjung Priok. Dengan begitu, ia bisa menekan biaya transportasi dan menambah upah bagi pekerjanya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY