Jokowi: Pelayanan di Pelabuhan Tanjung Priok Masih Lambat

0
338
Sebuah truk tanpa muatan melintas di Terminal Kontainer Internasional (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (1/5). FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/nz/10
Sebuah truk tanpa muatan melintas di Terminal Kontainer Internasional (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (1/5). FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/nz/10

Jakarta – (suaracargo.com)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan blusukan ke Kantor Pelayanan Terpadu Terminal Penumpang Nusantara Pura Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (17/6/2015). Dari hasil blusukannya kali ini, Jokowi mendapati waktu bongkar muat di pelabuhan atau dwelling time masih menempati ranking terlama jika dibandingkan negara-negara tetangga lainnya.

Padahal, Presiden Jokowi sudah menginstruksikan agar dwelling time dipangkas menjadi 4,7 hari dari rata-rata 8 hari. “(Fokus) pelayanan di Pelabuhan Tanjung Priok, terutama yang terkait dengan dwelling time, karena kita termasuk yang terlama,” tegas Jokowi di lokasi.

Menurut Jokowi, masih lamanya dwelling time di pelabuhan-pelabuhan Indonesia adalah karena para petugas pelayanan tidak mau melayani dengan cepat. “Yang melayani enggak mau cepat,” Jokowi kembali tegas, seperti dilansir okezone.com.

Hingga saat ini, Jokowi mengakui bahwa di sana belum ada perubahan signifikan mengenai penyelesaian dwelling time. Padahal, sudah sering kali melakukan rapat terbatas (ratas) membahas dwelling time.

Sementara itu, fasilitas terminalnya sendiri, menurut Jokowi sudah baik. Namun, kecepatan pelayanan adalah masalah yang masih harus diselesaikan. “Ya kalau melihat fasilitasnya sudah baik. Hanya sekali lagi, melayani cepat itu yang belum,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengintstruksikan agar waktu dwelling time di pelabuhan-pelabuhan besar dipangkas dari rata-rata 8 hari menjadi 4,7 hari. Dengan demikia akan mendapat penghematan sekira Rp700 triliun per tahun.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo menjelaskan, saat ini biaya logistik di pelabuhan Indonesia sekira 24,5 persen dari Gross Domestic Product (GDP). Angka penghematan ini dicapai jika biaya logistik diturunkan hingga 20 persen dari GDP.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here