Kabut Asap, Biaya Logistik Meningkat

0
215

Dalam dua minggu terakhir ini kita disuguhi berita berita yang kurang mengenakkan. Asap menyelimuti kota kota besar di sebagian Sumatera dan Kalimantan. Terutama terjadi di daerah sekitar perkebunan kelapa sawit.

Pemerintah dengan segala kewenangannya seolah llimbung. Tidak mampu mengatasi  masalah yang terjadi  hampir di setiapkali musim kemarau tiba.  Kebakaran hutan dan ladang yang disinyalir “disengaja” ini selalu terjadi.

Kabut asap tentu saja menurunkan derajat kesehatan masyarakat. Merusak sendi sendi aktivitas keseharian warga. Bahkan, diakui atau tidak, asap telah mengganggu akitvitas ekonomi secara nasional.

Menurunnya kualitas kesehatan masyarakat sudah dibahas banyak pakar. Akar musabab kebakaran juga sudah banyak dibicarakan para ahli. Para pemimpin pun sangat paham akan duduk persoalannya.

Akan tetapi, entah mengapa pemerintah daerah seolah tak berdaya. Pemerintah pusat pun terkesan lepas tangan. Isu lokal yang sudah menjadi isu internasional itu seolah mencoreng nasionalisme kita. Dan lagi lagi, pejabat berwenang “tak bisa berbuat apa apa”.

Rumor yang berkembang di masyarakat adalah, bahwa akar dari seluruh masalah ini adalah “korupsi”. Baik di tingkat pusat, hingga menjalar ke tingkat pemerintahan terendah di daerah.

Namun  ini hanyalah rumor yang berkembang dari mulut kemulut dan dari posting status di media sosial. Rumor yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Akan tetapi, karena pemerintah terkesan tak peduli, bau tak sedap itu berhembus kian kencang.

Penulis tidak ingin mengulas atau membuktikan rumor yang berkembang. Sesuai dengan apa yang  saya pahami, saya  akan membahas sedikit tentang kerugian yang ditimbulkan akibat kabut asap. Kerugian yang ada hubungannya dengan masalah logistik dan transportasi.

Informasi dari berbagai  sumber terpercaya menjelaskan bahwa kabut asap telah mengganggu kegiatan transportasi sungai. Paling tidak ini terjadi di Sungai Batang Hari – Jambi.  Lalu, Sungai Musi di Sumatera Selatan dan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Dari pantauan kawan kawan jasa pengiriman barang, volume cargo lewat moda transportasi sungai turun drastis dalam kurun waktu sebulan terakhir.

Kabut asap menjadikan kapal sulit berlayar karena jarak pandang yang sangat terbatas (hanya dalam hitungan meter). hal ini menjadikan kecepatan kapal harus dikurangi. Bahkan dalam beberapa kasus, kapal harus berhenti karena pekatnya asap.

Melambatnya laju kapal berakibat langsung dengan waktu tempuh yang semakin lama. Artinya, uang jalan sarana transportasi pun membengkak. Waktu perjalanan yang sudah direncanakan berubah, tidak sesuai dengan yang sudah dijadwalkan.

Seorang kawan di Sumatera Selatan mengatakan bahwa akibat kabut asap, pembengkakan biaya operasional kapal di Sungai Musi (dari luar hingga pelabuhan dalam kota Palembang) berlipat. Hal ini dikarenakan kapal harus bergantian mengantri untuk keluar masuk pelabuhan.

Biaya operasional bertambah hanya untuk menunggu giliran. Celakanya lagi, banyak kapal tak bisa dioperasikan karena kepadatan antrian. Hal ini tentu saja mengurangi pemasukan. Sementara itu, beban leasing relatif tetap.

Hal diatas, tentu saja membuat biaya transportasi di negeri ini yang sudah mahal menjadi semakin mahal. Biaya logistik meningkat beberpa kali lipat.

Tidak hanya sebatas itu saja. Kabut asap juga membuat beberapa penerbangan terganggu. Sebagai contoh ekstrim adalah ditutupnya Bandar Udara Melala di Kutai Barat semenjak 4 Oktober 2014.

Bandara lain pun terganggu, mesti belum sampai pada taraf penutupan. Pelabuhan udara ketapang di Kalimantan Barat, Palembang, Jambi, Banjarmasin, Pontianak, Palangkaraya dan Pekanbaru terpaksa harus “buka tutup”.

Bisa dibayangkan, berapa kerugian  yang timbul akibat kabut asap tersebut ? Baik kerugian materi karena gagal transaksi, maupun kerugian non materi karena mobilisasi masyarakat yang terganggu.

Diperkirakan, kerugian karena kabut asap di kisaran angka ratusan miliar rupiah.

Melalui media ini, saya hanya bisa berharap bahwa kebakaran hutan segera diatasi. Kalau memang pelaku bisnis perkebunan sengaja membakar, maka sewajarnya pemerintah memberikan gajaran setimpal.

Demi tegaknya hukum dinegeri ini. Demi terwujudnya kwalitas kesehatan masyarakat luas. Demi harga diri bangsa dan nasionalisme. Sebaiknya pemerintah tidak ragu lagi membawa pelaku kejahatan ini ke meja hijau.

Semoga….

@lambangsarib

Founder SUARA CARGO

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY