Kadin Ingin Ada Perubahan Paradigma Logistik

0
356
ilustrasi barang (shutterstock.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menginginkan paradigma transportasi logistik yang ada saat ini diubah dengan bergeser ke moda yang lebih murah serta terus menekankan sistem interkonektivitas secara tepat.

“Yang agak terabaikan dalam sistem transportasi logistik kita adalah kapal laut dan kereta,” kata Ketua Komite Tetap Jasa Layanan Logistik dan SDM Nofrisel dalam lokakarya Sistem Logistik Nasional di Jakarta, Senin.

Menurut dia, akibat dari kebijakan masa lalu yang berfokus membuka keterisolasian daerah, struktur biaya menjadi relatif lebih mahal karena transportasi logistik lebih berbasis kepada truk di darat dan kargo udara.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau saat ini. Oleh karena itu, manajemen logistik Indonesia merupakan pekerjaan dengan skala ekonominya sangat besar.

Nofrisel yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Ahli Sistem Logistik Nasional itu menyatakan, fakta biaya logistik sangat mahal sehingga berbagai pihak juga harus memahami bahwa tulang punggung logistik itu adalah sektor transportasi.

Untuk itu, ia juga mengemukakan perlunya konsep intermoda dan interkonektivitas yang membuat semuanya berjalan dengan efektif dan efisien, serta adanya aturan yang tepat dan terintegrasi dengan baik serta jumlah dan kualitas SDM yang memadai. “Kita kekurangan SDM logistik hingga 22 persen,” katanya, seperti dilansir okezone.com.

Saat ini, Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional berfungsi sebagai acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menyusun kebijakan dan rencana kerja yang terkait dengan pengembangan sistem logistik nasional di bidang masing-masing.

Sedangkan, dalam rangka menyambut pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai tahun 2016, Kadin juga menilai para pelaku usaha masih merasa khawatir sektor logistik nasional belum mampu menghadapinya. Ketidaksiapan itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti ketidaksiapan sistem, tingkat layanan, maupun infrastruktur dasar dan pendukung.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Perindustrian Saleh Husin berpendapat, pembangunan kawasan industri yang menggunakan konsep integrasi infrastruktur dapat efektif meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya logistik hingga 20 persen.

“Industri yang masuk ke kawasan akan diuntungkan dengan fasilitas yang mendukung produksi dan sekaligus memangkas ‘cost’ dalam jangka panjang. Ini magnet yang kuat bagi pabrik dan perusahaan,” kata Saleh di Gresik, Minggu (14/2).

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here