Kapal Pembawa Barang Selundupan Tidak Berani Merapat

0
370

Jakarta – (suaracargo.com)

Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan Harry Mulya menyampaikan, saat ini, sinergi antara DJBC, TNI/Polri, dan Kementerian Perdagangan dalam menekan barang-barang selundupan ditingkatkan.

Kerjasama tersebut mengakibatkan banyak kapal penyelundup tidak berani masuk dan menyeberangi Selat Malaka. “Sekarang ada berapa puluh kapal yang mencoba masuk. Mereka masih bertahan di dermaga-dermaga Malaysia,” kata Harry di Jakarta, Selasa (27/10/2015).

Menurut data DJBC, pintu-pintu masuk barang-barang selundupan paling banyak ada di Pulau Sumatera. Harry mengatakan, barang-barang selundupan hanya butuh waktu perjalanan kurang dari 4 jam untuk sampai pasar Indonesia. Barang-barang selundupan itu, kata Harry, banyak yang datang dari Malaysia lalu masuk melalui Singapura.

“Mulai dari beras, elektronik, hingga pakaian bekas,” kata Harry, seperti dilansir tribunpekanbaru.com.

Sementara itu, penyelundupan yang terjadi di pelabuhan-pelabuhan utama, seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak, biasanya dikategorikan penyelundupan administrasi.

Penyelundupan administrasi ini bisa berupa pemalsuan dokumen, misalnya impor TV 20 inci tetapi di dokumen tertulis TV 32 inci. “(Bisa juga) tidak memenuhi ketentuan yang disampaikan Kementerian Perdagangan sehingga barang-barang tersebut kami selidiki,” ucap Harry.

Berdasarkan data DJBC, ada sejumlah daerah yang biasa menjadi pintu masuk barang-barang selundupan, yakni Lhokseumawe, Teluk Nibung, Dumai, Bengkalis, Pekanbaru, Tembilahan, dan Jambi.

Harry mengatakan, pihaknya harus bekerja keras untuk mengawasi masuknya barang-barang dari luar karena ada sekitar 600 peraturan dari instansi pemerintah yang butuh pengawasan dari DJBC.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here