Kecanggihan Teknologi Informasi Harus Dimanfaatkan Untuk Tekan Biaya Logistik

    0
    219
    ilustrasi pelabuhan (industri.bisnis.com)

    Jakarta – (suaracargo.com)

    Salah satu persoalan pelik yang masih dihadapi Indonesia saat ini adalah masih tingginya biaya logistik. Berdasarkan hasil riset Roland Berger pada tahun 2015, biaya logistik di Indonesia mencapai 26 persen terhadap PDB.

    Managing Partner Roland Berger, Anthonie Versluis, mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan negara lain di Asia, Indonesia merupakan negara dengan biaya logistik tertinggi.

    “Singapura, memiliki biaya logistik sebesar 8 persen terhadap PDB. India mencapai 14 persen, Tiongkok 18 persen, Korea 13 persen, Jepang 9 persen dan Malaysia 18 persen,” ujar Versluis, dalam di Jakarta, Rabu (16/3).

    Biaya logistik yang tinggi, lanjut Versluis, akan mempengaruhi banyak hal termasuk iklim investasi. Investor bisa saja menunda rencana investasinya atau bahkan membatalkannya sama sekali karena terbentur biaya logistik yang tinggi. “Dengan begitu, masalah logistik di Indonesia harus diatasi,” katanya.

    Indonesia, kata Versluis, bisa menekan biaya logistik dengan cara membangun infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan dan bandara, kerjasama bisa dilakukan dengan skema Public Private Partnership (PPP) dengan pihak swasta.

    “Cara lain yang bisa digunakan untuk menurunkan biaya logistik adalah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi,” paparnya, seperti dilansir beritasatu.com.

    Menanggapi hal tersebut, CEO dan Co Founder Open Port, Max Ward, menyatakan bahwa pihaknya merupakan perusahaan yang bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menurunkan biaya logistik lewat layanan yang mereka sediakan.

    “Open Port merupakan perusahaan yang menghadirkan solusi logistik melalui sistem aplikasi. Saat ini, Open Port sudah mulai beroperasi di Indonesia,” ujar Max.

    Lebih lanjut Max mengatakan, Open Port merupakan aplikasi digital yang bisa menurunkan biaya logistik. Aplikasi ini, jelasnya, layaknya Gojek yang sudah sangat terkenal di Indonesia.

    “Open Port hanya berhubungan dengan perusahaan bukan konsumen. Adapun skema bisnis yang dipakai adalah Business to Business,” jelasnya.

    Selain itu, kata Max, Open Port akan menghubungkan pengirim barang dengan truk pengangkut, dimanan sistem dalamnya sudah canggih yang bisa melacak keberadaan truk pengangkut.

    “Platform Open Port memungkinkan pengirim untuk melakukan supply chain secara in house sehingga bisa menghemat waktu dan biaya logistik perusahaan hingga 30 persen,” jelasnya.

    Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY